Gubernur Ansar Dorong Pulau Penyengat Jadi Desa Budaya Melayu Level Asia - lkipartaigolkar

Gubernur Ansar Dorong Pulau Penyengat Jadi Desa Budaya Melayu Level Asia

Share your love

LKI Golkar – Pulau Penyengat tidak hanya menyimpan jejak sejarah Melayu, tetapi juga diproyeksikan menjadi pusat kehidupan budaya Melayu Kepulauan Riau yang mampu dikenal hingga tingkat Asia.

Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Ansar Ahmad, mendorong pengembangan Pulau Penyengat melalui pendekatan yang tidak hanya bertumpu pada pembangunan fisik, tetapi juga penguatan budaya, ekonomi masyarakat, pendidikan, dan pemanfaatan teknologi digital.

Pemerintah Provinsi Kepri saat ini menjalankan program revitalisasi kawasan Pulau Penyengat, termasuk pembenahan infrastruktur jalan, pelabuhan, gapura, serta berbagai sarana pendukung pariwisata.

“Program Pulau Penyengat saat ini masuk dalam program revitalisasi, termasuk infrastruktur jalan, pelabuhan, gapura-gapura dan infrastruktur pendukung lainnya,” kata Ansar saat ditemui di Batam, Sabtu (3/10/2026).

Namun, menurut Ansar, pembangunan fisik hanya menjadi salah satu bagian dari strategi besar menjadikan Penyengat sebagai kawasan budaya. Identitas masyarakat tempatan dan warisan Melayu harus tetap menjadi ruh utama pengembangan pulau tersebut.

Pulau Penyengat selama ini dikenal sebagai salah satu pusat penting sejarah dan kebudayaan Melayu. Warisan tersebut tidak hanya tercermin melalui bangunan dan situs bersejarah, tetapi juga bahasa, sastra, tradisi, permainan rakyat, serta kehidupan masyarakat yang masih mempertahankan nilai-nilai leluhur.

Karena itu, pemerintah ingin mengembangkan pola pariwisata yang memungkinkan wisatawan tidak sekadar melihat peninggalan sejarah. Pengunjung diharapkan dapat merasakan secara langsung kehidupan budaya Melayu yang masih berlangsung di tengah masyarakat.

Salah satu modal pengembangan tersebut adalah keberhasilan Pulau Penyengat meraih peringkat pertama Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) pada 2023. “Dari sana kita juga menggali bagaimana para wisatawan datang ke Penyengat. Hasilnya, wisman dan wisnus memiliki pengalaman yang menarik di Penyengat,” ujar Ansar.

Menurut dia, pengalaman wisatawan tersebut menjadi modal penting untuk terus membangun daya tarik Penyengat. Masyarakat tempatan juga didorong menjadi pelaku utama dalam pengembangan pariwisata, bukan sekadar penerima dampak pembangunan.

“Kita terus mendorong masyarakat untuk bersama mempromosikan Penyengat, baik melalui media sosial maupun cara masyarakat tempatan menerima wisatawan di sana,” katanya.

Penguatan ekonomi masyarakat menjadi bagian penting dalam konsep pengembangan Pulau Penyengat. Pemerintah mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya sektor kuliner, untuk menciptakan produk yang memiliki karakter khas Penyengat.

Kuliner lokal diharapkan tidak hanya menjadi pelengkap perjalanan wisata, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya yang dapat dipasarkan lebih luas. “Kita mendorong jajanan di sana agar memiliki cita rasa yang khas dan bisa dipasarkan secara luas,” ujar Ansar.

Selain pengembangan produk, pelaku UMKM juga mendapatkan edukasi mengenai kebersihan, pengemasan, strategi pemasaran, hingga pemanfaatan transaksi digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). “Kita juga melakukan edukasi, termasuk pembayaran melalui digital (QRIS), sehingga ekonomi digitalnya jalan,” katanya.

Dengan demikian, pengembangan Penyengat diarahkan untuk membangun ekosistem ekonomi lokal yang terhubung dengan perkembangan teknologi tanpa menghilangkan karakter budaya masyarakat.

Upaya menjaga identitas budaya juga dilakukan melalui pelestarian permainan tradisional. Salah satu yang masih bertahan di tengah anak-anak Pulau Penyengat adalah permainan gasing.

Menariknya, permainan tersebut tidak hanya menjadi aktivitas anak-anak tempatan. Ketika menerima kunjungan siswa sekolah dasar dari Malaysia, anak-anak Penyengat bahkan berperan sebagai pengajar yang memperkenalkan cara bermain gasing.

“Anak-anak tempatan kita mampu mengajarkan anak-anak Malaysia memutar gasing. Permainan gasing ini kan masih terus dipertahankan sebagai warisan permainan tradisional kita,” kata Ansar.

Ketertarikan anak-anak Malaysia terhadap permainan tersebut menunjukkan bahwa tradisi lokal dapat menjadi sarana pertukaran budaya lintas negara. “Anak-anak Malaysia sangat tertarik untuk belajar main gasing,” ujarnya.

Bagi Ansar, mempertahankan permainan tradisional juga memiliki manfaat dalam kehidupan anak-anak di tengah derasnya penggunaan teknologi. “Ini kita membangkitkan kembali budaya permainan di masa lalu. Kesibukan seperti itu akan terus kita dorong, sehingga kebiasaan menggunakan gadget akan berkurang,” katanya.

Pemerintah Kepri berharap berbagai permainan tradisional yang dipertahankan di Penyengat dapat menjadi model bagi wilayah lain.

Ansar ingin konsep pengembangan berbasis budaya tersebut direplikasi oleh desa dan daerah lain di Kepulauan Riau. Menurut dia, Penyengat dapat menjadi contoh bagaimana pembangunan pariwisata berjalan beriringan dengan pelestarian budaya.

“Termasuk permainan kampung lainnya, dan bisa direplikasi oleh kampung lainnya di Kepri. Itu menjadi prototipe. Mudah-mudahan bupati dan wali kota lainnya di Kepri bisa juga mencontoh. Inilah desa yang ideal,” ujar Ansar.

Konsep tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan desa wisata tidak hanya diukur dari jumlah kunjungan. Keberadaan masyarakat, tradisi, pendidikan, produk lokal, dan ruang hidup budaya menjadi bagian yang tidak terpisahkan.

Penguatan identitas Penyengat juga diarahkan melalui sektor pendidikan. Pemerintah ingin sekolah di pulau tersebut menjadi ruang pembelajaran ilmu pengetahuan sekaligus tempat menanamkan nilai dan budaya Melayu kepada generasi muda.

Kunjungan Seruni, organisasi yang menghimpun para istri menteri, ke Pulau Penyengat menjadi salah satu momentum dalam penguatan sektor pendidikan tersebut. Para tamu melihat langsung kondisi anak-anak sekolah dasar di pulau tersebut.

“Syukur kemarin kunjungan Seruni, ibu-ibu menteri datang berkunjung ke Penyengat dan senang melihat anak-anak SD di Penyengat,” kata Ansar.

Ia mengatakan anak-anak sekolah dasar di Penyengat memperoleh bantuan senilai Rp 5 miliar. Sekolah tersebut juga akan direvitalisasi dan diarahkan menjadi sekolah dasar berbasis budaya.

“Anak-anak SD mendapat bantuan sebesar Rp 5 miliar. Sekolah direvitalisasi dan akan menjadi sekolah dasar yang berbasis budaya,” ujarnya.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan generasi muda Penyengat tidak hanya menjadi pewaris situs sejarah, tetapi juga memiliki kemampuan untuk meneruskan budaya Melayu dalam kehidupan sehari-hari. Rangkaian program yang disiapkan Pemerintah Provinsi Kepri memperlihatkan arah pengembangan Pulau Penyengat yang semakin terintegrasi.

Infrastruktur dibenahi, ekonomi masyarakat diperkuat, UMKM didorong menghasilkan produk khas, transaksi digital diperluas, permainan tradisional dilestarikan, dan pendidikan diarahkan untuk memperkuat identitas budaya.

Dengan pendekatan tersebut, Pulau Penyengat diharapkan tidak berhenti sebagai destinasi yang menyimpan cerita masa lalu. Pulau ini diproyeksikan menjadi ruang hidup budaya Melayu yang terus berkembang sekaligus mampu berinteraksi dengan masyarakat dunia.

Bagi Ansar, cita-cita tersebut merupakan bagian dari upaya membawa identitas Melayu Kepulauan Riau ke panggung yang lebih luas. “Kalau kita bicara Penyengat sebagai kota budaya, bahasa dan pariwisata di level Asia,” kata Ansar.

Share your love

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *