Firman Soebagyo Ajak Generasi Muda Jaga Pancasila dan Waspadai Penyesatan Sejarah G30S/PKI - lkipartaigolkar

Firman Soebagyo Ajak Generasi Muda Jaga Pancasila dan Waspadai Penyesatan Sejarah G30S/PKI

Share your love

LKI Golkar – Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI, H. Firman Soebagyo, S.E., S.H., M.H., mengajak masyarakat Indonesia menjadikan peringatan Peristiwa G30S/PKI pada 30 September dan Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober sebagai momentum memperkuat ideologi bangsa sekaligus meningkatkan kesadaran sejarah, terutama di kalangan generasi muda.

Menurut Firman, kedua peringatan tersebut memiliki keterkaitan erat dalam perjalanan sejarah bangsa. Peristiwa 30 September menjadi pengingat atas tragedi yang menimpa para Pahlawan Revolusi, sedangkan 1 Oktober merefleksikan keteguhan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi pemersatu bangsa.

“Setiap 30 September malam, kita mengenang kekejaman G30S/PKI yang menculik dan membunuh 7 Pahlawan Revolusi secara biadab di Lubang Buaya. Keesokan harinya, 1 Oktober, Pancasila terbukti sakti, NKRI tidak runtuh. Ini bukan sekadar seremonial, ini pengingat bahwa ideologi bangsa pernah ingin diganti dengan ideologi yang anti Tuhan dan anti persatuan,” tegas Firman di Kompleks Parlemen, Senayan, Selasa (30/9).

Politisi senior Partai Golkar tersebut juga menyoroti maraknya narasi yang dinilainya berpotensi menyesatkan pemahaman sejarah di ruang digital. Ia mengingatkan bahwa perkembangan media sosial seperti TikTok, YouTube, dan Instagram perlu diimbangi kemampuan masyarakat dalam memilah informasi, khususnya bagi generasi muda.

“Saya sangat prihatin. Hari ini banyak konten di TikTok, YouTube, Instagram yang mencoba membelokkan fakta. Ada yang bilang G30S bukan ulah PKI, ada yang bilang PKI adalah korban. Ini pembodohan dan penyesatan sejarah yang sistematis dan berbahaya,” ujarnya.

Firman yang juga menjabat Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Bidang Politik itu turut menyinggung aspek hukum terkait pelarangan ajaran komunisme, Marxisme, dan Leninisme di Indonesia. Ia merujuk pada Ketetapan MPRS Nomor XXV Tahun 1966 sebagai landasan hukum yang menurutnya tetap berlaku.

“TAP MPRS itu masih berlaku sampai hari ini dan mengikat. Jadi tidak ada ruang untuk memberikan panggung apalagi membenarkan ajaran komunisme dengan dalih apapun di Indonesia,” tegasnya.

Dalam menghadapi derasnya arus informasi digital, legislator asal Dapil Jawa Tengah III ini menyampaikan tiga pesan kepada generasi muda agar memiliki pemahaman sejarah dan ideologi yang kuat.

Pertama, generasi muda diminta mempelajari sejarah melalui sumber primer yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan hanya mengandalkan potongan video singkat yang tidak jelas asal-usul informasinya.

Kedua, ia mengingatkan pentingnya mewaspadai penyebaran paham yang dinilainya bertentangan dengan nilai agama, persatuan, dan semangat gotong royong Pancasila, termasuk narasi yang memicu pertentangan serta kebencian antarkelompok sosial.

Ketiga, generasi muda diharapkan mengambil peran sebagai penjaga nilai Pancasila di era digital dengan meningkatkan literasi informasi serta tidak ikut menyebarkan hoaks dan ujaran kebencian.

Firman yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini menegaskan, peringatan G30S/PKI semestinya menjadi ruang refleksi sejarah dan pembelajaran bagi seluruh elemen bangsa agar tragedi serupa tidak terulang. Menurutnya, menjaga Pancasila membutuhkan komitmen bersama yang diwujudkan melalui sikap kritis, persatuan, dan tanggung jawab dalam kehidupan berbangsa.

“Peringatan G30S/PKI bukan untuk menumbuhkan dendam, tapi untuk memastikan pengkhianatan serupa tidak pernah terulang. Tugas kita adalah JAS MERAH – Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah, dan menjaga Pancasila tetap sakti di bumi Indonesia,” pungkas Firman.

Share your love

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *