
Tekan Angka Kemiskinan, Menperin Agus Getol Ciptakan Wirausaha Baru
Share your love
LKI Golkar – Pemerintah terus mempercepat upaya pengentasan kemiskinan melalui penguatan sektor industri kecil dan menengah (IKM). Salah satu langkah konkret dilakukan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) lewat program pembinaan wirausaha baru bagi masyarakat miskin dan miskin ekstrem.
Program tersebut diwujudkan melalui kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengolahan Pangan yang digelar di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 14–16 April 2026.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, langkah ini merupakan bagian dari implementasi Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025 tentang percepatan pengentasan kemiskinan dan penghapusan kemiskinan ekstrem.
“Pemerintah berkomitmen memastikan setiap program penumbuhan wirausaha baru industri berjalan tepat sasaran, sehingga mampu mendorong lahirnya pelaku usaha mandiri, khususnya dari kelompok masyarakat rentan,” ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta.
Program Bimtek ini difokuskan pada penguatan kemampuan peserta dalam mengelola usaha, mengembangkan produk, hingga memperluas akses pasar. Sebanyak 25 peserta mengikuti pelatihan intensif selama tiga hari.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA), Reni Yanita, menjelaskan bahwa program ini tidak hanya bertujuan membantu masyarakat memulai usaha, tetapi juga memastikan keberlanjutannya.
“Peserta diharapkan mampu mengembangkan usahanya secara berkelanjutan dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan,” kata Reni.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sektor IKM memiliki peran dominan dalam industri nasional. Dari total sekitar 4,4 juta unit usaha industri, sebanyak 99,79 persen merupakan IKM.
Sektor ini juga menyerap sekitar 65,52 persen tenaga kerja industri atau setara 20,26 juta orang. Selain itu, kontribusinya terhadap output industri mencapai 21,01 persen dan menyumbang 3,56 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
“Ini membuktikan bahwa IKM adalah tulang punggung industri nasional sekaligus kunci dalam pengurangan kemiskinan,” tambah Reni.
Selama pelatihan, peserta mendapatkan berbagai materi penting seperti pembukuan sederhana, pemahaman kekayaan intelektual, desain merek dan kemasan, hingga pelatihan digital marketing.
Tak hanya itu, peserta juga dibekali kemampuan membuat akun e-commerce dan konten promosi agar mampu bersaing di era digital.
Sekretaris Ditjen IKMA, Yedi Sabaryadi, menyebut peserta juga mendapatkan pendampingan langsung dari tenaga ahli serta fasilitas pendukung berupa starter kit, sertifikat, dan bantuan operasional.
Melalui program ini, Kemenperin berharap para pelaku usaha baru di Sleman dapat berkembang menjadi wirausaha mandiri dan berdaya saing.
Selain meningkatkan kesejahteraan masyarakat, langkah ini juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah serta memperkuat struktur industri nasional secara inklusif dan berkelanjutan.



