Respons Mas Lindra soal Santri di Tuban Diduga Dianiaya Guru Ponpes - lkipartaigolkar

Respons Mas Lindra soal Santri di Tuban Diduga Dianiaya Guru Ponpes

Share your love

LKI Golkar – Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky menanggapi kabar dugaan penganiayaan terhadap santri pondok pesantren (ponpes) ternama di Bumi Wali beberapa waktu terakhir. 

Kasus perundungan berujung penganiayaan santri itu diduga dilakukan oleh R, guru ponpes itu sendiri. Kasus tersebut pun ramai menjadi perbincangan di media sosial (medsos).

Bupati Tuban yang akrab disapa Mas Lindra menyatakan belum mengetahui persis kasus dugaan penganiayaan santri tersebut. Tetapi, ia meyakini Kementerian Agama (Kemenag) Tuban yang memiliki kewenangan sudah turun melakukan pendalaman.

“Itu menjadi salah satu kewenangan dari Kemenag, karena kaitannya dengan sekolah-sekolah keagamaan, pasti saya yakin Kemenag sudah turun untuk menindaklanjuti kejadian,” ujar Mas Lindra usai rapat paripurna  di Kantor DPRD Tuban, Senin (3/8/2026).

Ditanya apakah Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinsos P3A dan PMD) Kabupaten Tuban akan ikut melakukan pendampingan terhadap korban, Mas Lindra menjawab diplomatis. 

“Kalau kita mengonsolidasikan, berkomunikasi saya yakin komunikasi selama ini beliau-beliau, instansi vertikal sangat baik dan luar biasa untuk esensinya meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat. Bagi saya komunikasi pasti terjalin dan insyallah ranahnya sudah dibagi masing-masing,” tandasnya. 

Diberitakan sebelumnya, santri ponpes ternama di Kabupaten Tuban, Jawa Timur diduga menjadi korban penganiayaan oleh gurunya sendiri.

Peristiwa perundungan berujung penganiayaan itu diungkap pemilik akun Threads @unicorn.93718293922. Unggahan tersebut pun ramai menjadi perbincangan di medsos.

Dalam unggahan yang beredar menyebutkan terduga pelaku seorang guru berinisial R itu sempat melakukan pemukulan tanpa alasan yang jelas terhadap santri di lantai empat gedung asrama sekolah.

Tak hanya kekerasan fisik, sejumlah santri juga disebut kerap mendapat intimidasi oleh R. Para santri diminta untuk tidak menyapa kepada guru-guru yang lain. Jika ketahuan tidak menjalankan perintah tersebut, santri akan mendapat hukuman lebih berat.

Unggahan medsos tersebut juga menjelaskan bahwa saat ini R telah dipecat oleh pihak yayasan ponpes. Namun pemberhentian itu dinilai tidak cukup, santri meminta guru yang melakukan tindakan kekerasan diproses secara hukum.

Share your love

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *