
Ranny Fahd Arafiq Dorong Penanganan Hantavirus Secara Cepat Tanpa Menimbulkan Kepanikan
Share your love
LKI Golkar – Meningkatnya perhatian dunia terhadap penyebaran hantavirus dalam beberapa hari terakhir mulai memicu kekhawatiran publik, termasuk di Indonesia. Di tengah situasi tersebut, Anggota Komisi IX DPR RI, Ranny Fahd Arafiq, meminta pemerintah untuk segera memperkuat langkah antisipasi, namun tetap menjaga komunikasi publik agar tidak memicu kepanikan yang berlebihan.
Menurut Ranny, respons cepat memang diperlukan karena isu hantavirus kini sudah menjadi perhatian internasional. Namun di sisi lain, masyarakat juga perlu mendapatkan informasi yang utuh dan proporsional agar tidak muncul ketakutan yang tidak berdasar.
“Kita harus sigap, tapi juga harus tenang. Jangan sampai masyarakat justru panik karena informasi yang simpang siur. Pemerintah perlu menjelaskan situasinya secara terbuka dan terukur,” ujarnya.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Indonesia mencatat 23 kasus hantavirus dalam tiga tahun terakhir yang tersebar di sembilan provinsi, dengan tiga kasus kematian. Seluruh kasus di Indonesia terkonfirmasi merupakan jenis Seoul virus, berbeda dengan Andes virus yang menjadi sorotan dunia setelah muncul dalam klaster kasus di kapal pesiar MV Hondius.
Kasus hantavirus di Indonesia sendiri dilaporkan tersebar di DKI Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur. Penularannya umumnya berasal dari paparan tikus atau hewan pengerat yang terinfeksi.
Ranny menilai, situasi ini menjadi pengingat penting bahwa sistem deteksi dini dan pengawasan penyakit menular harus terus diperkuat, terutama di tengah tingginya mobilitas masyarakat internasional.
“Pelajaran terbesar setelah pandemi adalah negara tidak boleh terlambat membaca potensi ancaman kesehatan. Kesiapan itu penting, mulai dari skrining, surveilans, sampai edukasi publik,” katanya.
Ia juga mendorong penguatan pengawasan di pintu masuk internasional, termasuk bandara dan pelabuhan, sejalan dengan perhatian yang sebelumnya juga disampaikan pimpinan Komisi IX DPR RI terkait kewaspadaan terhadap hantavirus.
Meski demikian, Ranny mengingatkan bahwa masyarakat tidak perlu panik. Ia menegaskan bahwa sampai saat ini pemerintah menyatakan situasi di Indonesia masih terkendali dan belum ditemukan pola penularan antarmanusia seperti yang menjadi perhatian pada kasus Andes virus di luar negeri.
“Yang dibutuhkan sekarang adalah kewaspadaan, bukan kepanikan. Masyarakat cukup menjaga kebersihan lingkungan, mengurangi paparan hewan pengerat, dan mengikuti informasi resmi dari pemerintah,” lanjutnya.
Selain itu, Ranny juga meminta agar edukasi kesehatan kepada masyarakat diperkuat, terutama terkait aktivitas yang berisiko tinggi terhadap paparan hantavirus, seperti kontak dengan area yang terkontaminasi tikus atau debu dari lingkungan yang tidak higienis.
“Saya berkomitmen untuk terus memantau kesiapan pemerintah dalam mengantisipasi perkembangan situasi penyakit menular global, termasuk hantavirus.”
“Kecepatan respons itu penting, tapi ketenangan publik juga harus dijaga. Negara harus hadir dengan kesiapan, untuk mencegah penyebaran virus tanpa menimbulkan kepanikan,” tutup Ranny.



