
Menteri Bahlil Ungkap Nilai Investasi Proyek 14 PLTS Capai Rp 1.140 Triliun, Buka 5,5 Juta Lapangan Kerja
Share your love
LKI Golkar – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkap nilai investasi program pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas total 100 gigawatt (GW) mencapai sekitar 73 miliar dollar AS atau lebih dari Rp 1.140 triliun.
Hal itu disampaikan Bahlil saat meresmikan PLTS Gilimanuk di Kabupaten Jembrana, Bali, Selasa (25/8/2026).
“Total investasinya, dari 100 gigawatt adalah kurang lebih sekitar 73 miliar US dollar atau setara dengan 1.140 triliun lebih,” kata Bahlil. Menurut Bahlil, investasi tersebut juga berpotensi menciptakan sekitar 5,5 juta lapangan kerja.
“Dan dari total pekerjaan ini, bisa kita melakukan efisiensi terhadap subsidi setiap tahun Rp 73,9 triliun. Bisa menciptakan lapangan pekerjaan kurang lebih sekitar 5,52 juta lapangan kerja,” ujarnya.
LTS 100 GW Dikebut 3 Tahun Bahlil mengatakan pemerintah akan mengeksekusi program PLTS 100 GWp secara bertahap dalam tiga tahun. Pada tahap awal, pemerintah melakukan groundbreaking proyek PLTS dengan total kapasitas 5,3 GW. Khusus di Bali, pemerintah menyiapkan PLTS berkapasitas 1.000 megawatt (MW) yang dilengkapi dengan baterai penyimpanan energi.
“Program PLTS ini begitu ini kita luncurkan, ini kami akan lakukan secara masif Pak, dan dibagi menjadi 3 tahun,” kata Bahlil.
Menurut dia, pembangunan PLTS merupakan bagian dari upaya pemerintah memperkuat swasembada dan kedaulatan energi nasional dengan memanfaatkan sumber energi yang tersedia di dalam negeri.
Pemanfaatan energi surya juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar minyak (BBM), khususnya solar. Bahlil menyebut saat ini masih terdapat sekitar 12,6 GW pembangkit listrik di Indonesia yang menggunakan solar.
“Dari 12,6 gigawatt itu, kita menghasilkan minyak kita itu kurang lebih ekuivalen dengan 230 sampai dengan 250.000 barel per hari,” ujarnya.
PLTS Bali Hemat 600.000 Kiloliter Solar Khusus di Bali, Bahlil menyebut penggunaan PLTS berkapasitas 1.000 MW berpotensi menghemat konsumsi solar yang selama ini digunakan untuk pembangkit listrik PLN.
“Khusus untuk Bali, dengan kita memakai 1.000 megawatt, itu mampu melakukan efisiensi 0,6 juta kiloliter solar yang dilakukan oleh PLN,” kata Bahlil.
Ia mengatakan pembangunan PLTS di Bali juga sejalan dengan upaya menjaga citra Pulau Dewata sebagai destinasi pariwisata yang mengedepankan penggunaan energi bersih.
Bahlil menambahkan, seluruh proyek PLTS 1.000 MW di Bali ditargetkan menggunakan tanah negara.
Pemerintah Provinsi Bali disebut telah memberikan rekomendasi terkait penggunaan lahan tersebut.



