
Menperin Sarmuji Kumpulkan Pejabat Kemenperin: Belanja Masalah-Cari Solusi Industri
Share your love
LKI Golkar – Wajah baru di koridor gedung Kementerian Perindustrian membawa angin segar sekaligus beban tanggung jawab yang masif bagi masa depan manufaktur nasional. Muhammad Sarmuji, yang baru saja mengemban amanah sebagai Menteri Perindustrian, langsung tancap gas dengan menggelar rapat kerja perdana guna memetakan tantangan industri di tengah ambisi pertumbuhan ekonomi yang kian menantang.
Langkah cepat ini diambil hanya berselang beberapa hari setelah prosesi serah terima jabatan yang khidmat. Di bawah nakhoda baru, Kemenperin tampaknya tidak ingin membuang waktu dalam merespons dinamika pasar global yang terus bergejolak. Fokus utamanya jelas: menjadikan sektor industri sebagai tulang punggung utama transformasi ekonomi Indonesia.
Era Baru di Jalan Gatot Subroto: Estafet Kepemimpinan Industri
Transisi kepemimpinan di Kementerian Perindustrian menandai dimulainya babak baru dalam kebijakan industrialisasi tanah air. Muhammad Sarmuji resmi menggantikan Agus Gumiwang Kartasasmita melalui proses pelantikan oleh Presiden Prabowo Subianto pada Kamis, 1 Oktober 2026. Momentum ini bukan sekadar pergantian figur, melainkan sebuah estafet visi besar untuk memperkuat kedaulatan industri nasional.
Hanya sehari setelah pelantikan, tepatnya pada Jumat 2 Oktober 2026, proses serah terima jabatan (sertijab) dilangsungkan di kantor Kemenperin, Jakarta Selatan. Dalam momen tersebut, Sarmuji menekankan pentingnya kesinambungan program yang sudah berjalan baik, sembari menyuntikkan energi baru untuk mengakselerasi target-target yang belum tercapai.
Rapat kerja internal yang digelar pada Senin, 5 Oktober 2026, menjadi bukti nyata bahwa Sarmuji ingin bergerak dengan data dan fakta lapangan. Kehadiran jajaran elit kementerian, mulai dari Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza, Sekretaris Jenderal Eko S.A Cahyanto, hingga Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Setia Diarta, menunjukkan soliditas birokrasi dalam menyambut arahan baru ini.
Filosofi “Belanja Masalah”: Membedah Akar Persoalan Manufaktur
Salah satu frasa menarik yang dilontarkan Sarmuji dalam rapat perdana tersebut adalah “belanja masalah”. Istilah ini merujuk pada upaya proaktif kementerian untuk mengumpulkan seluruh kendala, hambatan, dan keluhan yang dihadapi oleh para pelaku industri di berbagai subsektor. Menurutnya, mustahil merumuskan solusi yang akurat tanpa memahami anatomi masalah secara mendalam.
“Belanja masalah, memetakan masalah untuk menemukan solusi,” tegas Sarmuji di hadapan jajarannya. Pendekatan ini menandakan gaya kepemimpinan yang berbasis pada penyelesaian masalah (problem-solving oriented). Dengan memetakan masalah sejak dini, Kemenperin diharapkan dapat menyusun skala prioritas kebijakan yang lebih berdampak langsung pada produktivitas pabrik dan kesejahteraan tenaga kerja.
Belanja masalah ini mencakup berbagai aspek, mulai dari kendala logistik, ketersediaan bahan baku, hingga tantangan digitalisasi di era industri 4.0. Sarmuji menyadari bahwa setiap sektor memiliki karakteristik masalah yang berbeda. Sektor tekstil mungkin berhadapan dengan serbuan barang impor, sementara sektor otomotif mungkin lebih fokus pada transisi menuju kendaraan listrik.
Sektor Industri sebagai Mesin Utama Pertumbuhan Ekonomi
Dalam visi besar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, sektor industri diposisikan sebagai “leverage” atau daya ungkit utama. Sarmuji sangat menyadari bahwa untuk mencapai angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi, Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan konsumsi domestik atau ekspor komoditas mentah. Industrialisasi adalah kunci untuk meningkatkan nilai tambah (value-added) di dalam negeri.
“Kita semua tahu bahwa sektor industri adalah sektor yang sangat vital bagi republik ini,” ujar Sarmuji. Ia memandang industri bukan hanya sebagai deretan pabrik dan mesin, melainkan sebagai tumpuan harapan bagi jutaan rakyat Indonesia. Melalui penguatan industri, penyerapan tenaga kerja dapat dilakukan secara masif, yang pada gilirannya akan mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan.
Daya ungkit ekonomi yang dimaksud Sarmuji mencakup efek domino yang luas. Ketika sebuah kawasan industri berkembang, sektor UMKM di sekitarnya akan ikut tumbuh, infrastruktur daerah akan membaik, dan pendapatan asli daerah akan meningkat. Inilah yang menjadi alasan mengapa penguatan sektor industri menjadi harga mati dalam agenda kerja Sarmuji ke depan.
Menilik Peran Strategis ILMATE dalam Peta Jalan Sarmuji
Kehadiran Setia Diarta selaku Dirjen ILMATE dalam rapat tersebut memberikan sinyal kuat bahwa sektor logam, mesin, alat transportasi, dan elektronika akan tetap menjadi prioritas strategis. Sektor-sektor ini sering disebut sebagai “mother of industries” karena menyediakan peralatan dan bahan baku bagi industri lainnya.
Pengembangan industri logam nasional, misalnya, sangat krusial untuk mendukung program hilirisasi yang dicanangkan pemerintah. Tanpa industri pengolahan yang kuat, kekayaan alam Indonesia hanya akan dinikmati oleh negara lain. Begitu pula dengan sektor alat transportasi yang kini tengah bertransformasi menuju ekosistem hijau.
Sarmuji meminta jajaran Direktorat Jenderal terkait untuk lebih jeli melihat peluang di tengah tantangan global. Di saat rantai pasok dunia mengalami disrupsi, Indonesia harus mampu memposisikan diri sebagai basis produksi yang stabil dan kompetitif. Hal ini memerlukan sinkronisasi kebijakan antara pusat dan daerah, serta dukungan regulasi yang memudahkan investasi masuk ke sektor-sektor strategis tersebut.
Fokus pada Peluang: Mengubah Tantangan Menjadi Daya Ungkit
Salah satu pesan paling kuat yang disampaikan Sarmuji kepada para pejabat Kemenperin adalah perubahan pola pikir (mindset). Ia meminta bawahannya untuk tidak terjebak dalam pesimisme saat menghadapi kendala birokrasi atau hambatan pasar.
“Jangan berpikir kendalanya terlebih dahulu. Mari kita berpikir opportunity terlebih dahulu,” pesan Sarmuji dengan nada optimis. Baginya, setiap hambatan adalah peluang untuk melakukan inovasi kebijakan. Jika ada regulasi yang menghambat, maka regulasi tersebut harus dievaluasi. Jika ada kekurangan infrastruktur, maka koordinasi lintas kementerian harus diperkuat.
Pola pikir yang berorientasi pada peluang ini sangat penting untuk menjaga momentum pertumbuhan. Di tengah persaingan ketat dengan negara-negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand, Indonesia harus menawarkan nilai lebih. Keunggulan demografi dan kekayaan sumber daya alam harus dikelola dengan cerdas agar sektor industri nasional semakin menjadi tumpuan pembangunan yang kokoh.
Sinergi Internal: Membangun Mimpi Besar Kemenperin
Menutup rangkaian rapat kerjanya, Sarmuji mengajak seluruh jajaran di Kementerian Perindustrian untuk berkolaborasi dan membangun mimpi besar bersama. Ia menekankan bahwa keberhasilan kementerian tidak ditentukan oleh kerja individu, melainkan oleh kerja tim yang solid dan terintegrasi.
Kerja sama antara sekretariat jenderal, direktorat jenderal teknis, hingga badan-badan penelitian di bawah Kemenperin harus berjalan harmonis. Sarmuji menginginkan birokrasi yang lincah (agile) dan responsif terhadap kebutuhan pelaku usaha. Dengan begitu, visi untuk menjadikan Indonesia sebagai negara industri tangguh bukan lagi sekadar impian, melainkan target yang terukur dan dapat dicapai.
Langkah awal “belanja masalah” ini akan segera ditindaklanjuti dengan serangkaian kunjungan lapangan dan dialog dengan asosiasi industri. Publik kini menanti, bagaimana hasil dari pemetaan masalah ini akan diterjemahkan ke dalam kebijakan nyata yang mampu membawa industri manufaktur Indonesia terbang lebih tinggi di panggung global.
Dengan kepemimpinan Muhammad Sarmuji dan dukungan penuh dari jajaran seperti Faisol Riza dan para Dirjen, Kementerian Perindustrian kini bersiap menghadapi tantangan masa depan dengan strategi yang lebih matang, inklusif, dan berorientasi pada hasil nyata bagi perekonomian nasional.



