
Impor Minyak Rusia Tahap Dua, Menteri Bahlil: Selama Ekonomis dan Tak Langgar Aturan
Share your love
LKI Golkar – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan pembelian minyak mentah atau crude dari Rusia tahap kedua sudah berjalan.
Pemerintah melanjutkan pengadaan tersebut dengan mempertimbangkan kepatuhan terhadap aturan dan aspek keekonomian.
Bahlil mengatakan pemerintah menentukan sumber pasokan minyak mentah berdasarkan skala prioritas, terutama di tengah dinamika kondisi global.
“Kita sekarang ini kan lagi kondisi global kayak begini, kita mencari skala prioritas mana yang duluan bisa mendatangkan crude kita. Selama tidak menabrak aturan dan secara ekonomis masuk,” kata Bahlil di Jakarta, Jumat (12/9/2026).
Terkait perkembangan tahap kedua pembelian minyak mentah dari Rusia, Bahlil memastikan proses tersebut telah berjalan.
“Sudah, sudah, sudah mulai jalan, ya,” ujar dia.
Bahlil menjelaskan pembelian minyak mentah dari Rusia merupakan bagian dari kerja sama antarpemerintah atau government-to-government (G-to-G). Kerja sama tersebut kemudian dilanjutkan antara pemerintah dengan badan usaha atau government-to-business (G-to-B).
“Saya mengatakan sekali lagi ya, bahwa pembelian crude dari Rusia itu merupakan bagian daripada kontrak G-to-G yang kemudian diakhiri dengan G-to-B,” ucapnya.
Menurut Bahlil, pemenuhan kebutuhan energi nasional menjadi salah satu pertimbangan pemerintah dalam menentukan sumber minyak mentah di tengah perkembangan global.
“Saya lebih mementingkan kepentingan rakyat daripada kepentingan lain. Apalagi kedaulatan bangsa kita tidak boleh diintervensi oleh siapa pun. Karena kita menganut mazhab politik bebas aktif,” tutur dia.
Produksi Minyak Nasional Masih di Bawah Target
Kebutuhan terhadap sumber pasokan minyak dari luar negeri berlangsung ketika produksi domestik masih berada di bawah target.
Data Kementerian ESDM mencatat produksi minyak nasional pada 8 September 2026 sebesar 571.731 barel per hari.
Angka tersebut masih di bawah target produksi minyak 2026 sebesar 610.000 barel per hari.
Sebelumnya, Bahlil pada 31 Agustus mengatakan target lifting minyak 610.000 barel per hari pada 2026 belum tercapai.
Kementerian ESDM mencatat rata-rata produksi minyak mentah hingga 31 Juli sebesar 578.156 barel per hari.
Impor Minyak Rusia Dilakukan Bertahap
Bahlil pada 5 Agustus 2026 menyampaikan tahap pertama impor minyak mentah dari Rusia telah tiba di Indonesia. Tahap kedua saat itu sedang berjalan.
Pemerintah juga tengah menyiapkan kontrak jangka panjang untuk pengadaan minyak mentah dari Rusia.
Bahlil ketika itu menjelaskan pengadaan minyak Rusia dilakukan negara melalui Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas), bukan oleh PT Pertamina (Persero).
Pengadaan minyak dari Rusia merupakan bagian dari realisasi komitmen impor sebesar 150 juta barel. Pengadaan tersebut direncanakan dilakukan secara bertahap hingga akhir 2026.
Bahlil pada Juni menugaskan Lemigas untuk menjalankan pengadaan tersebut.
Berlandaskan Perpres 26 Tahun 2026
Mekanisme pengadaan tersebut memiliki landasan Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2026 tentang Pengadaan Minyak Bumi, Bahan Bakar Minyak, dan/atau Liquefied Petroleum Gas (LPG) untuk Ketahanan Energi Nasional.
Perpres tersebut berlaku sejak 30 April 2026.
Regulasi itu mengatur pengadaan minyak bumi untuk kebutuhan kilang dalam negeri. Aturan tersebut juga mencakup keandalan pasokan BBM dan LPG dari dalam maupun luar negeri guna menjamin ketersediaan energi bagi masyarakat dan industri.
Kerja sama energi Indonesia dan Rusia kembali mengemuka saat Eastern Economic Forum di Vladivostok pada 3 September 2026.
Dalam forum tersebut, Presiden Prabowo Subianto mengatakan Indonesia menyambut kerja sama dengan Rusia untuk meningkatkan produktivitas eksplorasi, produksi, dan pengolahan minyak serta gas bumi.



