
Golkar Tak Punya Tradisi Oposisi, Juliyatmono Ingatkan Kuota Perempuan Bisa Gugurkan Pencalonan
Share your love
LKI Golkar – Anggota Komisi X DPR RI Juliyatmono menegaskan Partai Golkar tidak memiliki tradisi menjadi oposisi pemerintahan.
Menurutnya, DNA partai berlambang pohon beringin adalah berkarya dan memberi kontribusi nyata untuk negara, siapa pun pemimpinnya.
Pernyataan itu disampaikan Juliyatmono pada wartawan silaturahmi keluarga besar Partai Golkar Kabupaten Karanganyar, Jumat (29/5/2026).
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mulai menyinggung strategi besar Golkar menghadapi Pemilu 2029, termasuk ancaman serius terkait kuota perempuan 30 persen dalam pencalonan legislatif.
“Golkar itu DNA-nya berkarya. Memberikan kontribusi kepada presiden, gubernur, bupati, wali kota, dan masyarakat,” kata Juliyatmono.
Mantan Bupati Karanganyar itu menegaskan, kader Golkar tidak boleh terjebak ego politik pasca pemilu maupun pilkada. Menurutnya, kekalahan politik tidak boleh membuat kader berhenti mengabdi kepada masyarakat.
Ia meminta seluruh kader tetap berada di garis pembangunan dan terus mendukung pemerintah demi kepentingan rakyat.
“Diminta atau tidak, kader Golkar harus tetap memberikan kontribusi untuk negara dan masyarakat,” ujarnya.
Selain menekankan soliditas internal, Juliyatmono mengungkapkan hingga 2026 Golkar masih fokus menuntaskan konsolidasi organisasi hingga tingkat desa dan kelurahan. Setelah konsolidasi selesai, partai akan mulai memanaskan mesin politik menuju Pemilu 2029 dengan menyiapkan kader potensial dari tingkat daerah hingga pusat.
“Mulai 2027 kita siapkan kader terbaik untuk DPR kabupaten, provinsi, hingga pusat,” katanya.
Namun, Juliyatmono mengingatkan tantangan Pemilu 2029 tidak hanya soal perebutan suara, melainkan juga kesiapan partai memenuhi aturan politik yang semakin ketat, terutama terkait keterwakilan perempuan. Ia menegaskan aturan kuota perempuan 30 persen kini menjadi faktor penentu yang dapat memengaruhi nasib pencalonan partai politik.
“Kalau tidak memenuhi kuota perempuan 30 persen, pencalonannya bisa digugurkan,” tegasnya.
Menurut Juliyatmono, kondisi tersebut membuat kader perempuan kini menjadi aset politik yang sangat strategis dan mulai diperebutkan partai-partai sejak jauh hari.
Karena itu, Golkar disebut mulai menyiapkan kader perempuan potensial hingga tingkat daerah agar mampu memenuhi kebutuhan politik sekaligus bersaing dalam kontestasi legislatif mendatang.
Ia menilai Pemilu 2029 bakal berlangsung lebih kompetitif karena partai politik tidak hanya dituntut memiliki kekuatan elektoral, tetapi juga harus mampu memenuhi syarat regulasi pencalonan.
“Perempuan sekarang punya posisi sangat penting dalam politik. Partai harus serius menyiapkan kader terbaik,” katanya.
Juliyatmono juga memprediksi dinamika politik nasional akan mulai memanas pada 2027 seiring pembahasan perubahan aturan pemilu yang diperkirakan memunculkan perdebatan panjang antarpartai politik.
Menurutnya, perubahan regulasi dapat memengaruhi strategi partai, mulai dari pola rekrutmen kader, penyusunan daftar calon legislatif, hingga arah koalisi politik menjelang Pemilu 2029.
Karena itu, ia meminta seluruh kader Golkar mulai bersiap lebih awal dan tidak hanya fokus pada perebutan kekuasaan, melainkan memperkuat pengabdian kepada masyarakat.
“Yang paling penting adalah bagaimana Golkar tetap hadir untuk rakyat dan terus memberi kontribusi nyata bagi pembangunan,” tandasnya.



