Agung Widyantoro Dorong Buku Bacaan Menarik dan Kontekstual untuk Tingkatkan Literasi Siswa - lkipartaigolkar

Agung Widyantoro Dorong Buku Bacaan Menarik dan Kontekstual untuk Tingkatkan Literasi Siswa

Share your love

LKI Golkar – Ketersediaan buku bacaan yang menarik, sesuai usia, dan dekat dengan kehidupan anak menjadi salah satu kunci untuk menumbuhkan budaya literasi di sekolah. Karena itu, penguatan literasi perlu diiringi dengan penyediaan bahan bacaan berkualitas yang mampu membangun minat baca sekaligus mengasah kemampuan berpikir kritis peserta didik.

Ketua Komisi X DPR RI Dr. H. Agung Widyantoro, S.H., M.Si., menekankan pentingnya pemanfaatan buku bacaan yang relevan dengan kebutuhan dan pengalaman siswa. Menurutnya, buku tidak hanya berfungsi sebagai sumber pengetahuan, tetapi juga menjadi sarana untuk menumbuhkan rasa ingin tahu, memperluas wawasan, dan membangun kemampuan memahami persoalan.

Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Diseminasi Bahan Bacaan Literasi Tahun 2026 yang diselenggarakan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, melalui Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, bekerja sama dengan Ketua Komisi X DPR RI. Kegiatan tersebut diikuti 100 pendidik dari Kabupaten Brebes dan berlangsung di Taman Wisata, Resto dan Villa Teras Padi, Sawah, Ladang, Kretek, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

Agung menilai, tantangan literasi saat ini bukan sekadar mendorong siswa agar rajin membaca, melainkan memastikan mereka memiliki akses terhadap buku yang mampu menarik perhatian dan membantu memahami isi bacaan secara mendalam.

“Buku bacaan harus mampu membuat anak tertarik untuk membaca. Isinya perlu sesuai dengan usia dan kemampuan mereka, dekat dengan kehidupan sehari-hari, serta mendorong rasa ingin tahu. Dengan begitu, membaca tidak sekadar menjadi tugas sekolah, tetapi tumbuh menjadi kebutuhan dan kebiasaan yang menyenangkan,” ujar Agung.

Ia menjelaskan, kemampuan membaca secara teknis belum tentu diikuti kemampuan memahami konteks, menganalisis informasi, dan mengambil makna dari bacaan. Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pemilihan bahan bacaan harus menjadi perhatian dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran.

Menurut Agung, buku yang baik tidak harus selalu menghadirkan cerita yang jauh dari kehidupan peserta didik. Tema keluarga, lingkungan, budaya lokal, kehidupan sosial, hingga pengalaman sehari-hari dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kedekatan anak dengan aktivitas membaca.

“Anak-anak perlu mendapatkan bahan bacaan yang beragam dan inklusif, dengan konteks yang mereka kenal. Cerita tentang lingkungan sendiri, budaya daerah, dan kehidupan masyarakat bisa menjadi sarana untuk memperluas pengetahuan sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap budaya lokal,” katanya.

Di sisi lain, perkembangan teknologi digital turut memengaruhi kebiasaan membaca anak. Daya tarik gawai dan derasnya arus informasi menuntut sekolah untuk menghadirkan bahan bacaan yang lebih kreatif dan relevan, baik dalam format cetak maupun digital.

Agung berpandangan, pemanfaatan teknologi perlu berjalan beriringan dengan penguatan kemampuan literasi. Kehadiran bahan bacaan digital dapat menjadi alternatif untuk memperluas akses, tetapi kualitas isi dan kemampuan siswa dalam memahami serta menyaring informasi tetap harus menjadi perhatian utama.

“Literasi adalah kunci kedaulatan berpikir dan fondasi mutu pendidikan. Kita ingin anak-anak tidak hanya mampu membaca, tetapi juga memahami, menalar, dan bertindak berdasarkan pengetahuan yang mereka peroleh,” tegasnya.

Kegiatan diseminasi ini menjadi bagian dari upaya memperluas pemanfaatan bahan bacaan yang telah disusun Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Melalui kegiatan tersebut, para pendidik diharapkan dapat mengenali dan memanfaatkan bahan bacaan secara lebih optimal untuk mendukung pembelajaran di sekolah.

Agung juga menekankan pentingnya peran guru dalam mendampingi siswa berinteraksi dengan buku. Guru tidak hanya mendorong anak menyelesaikan bacaan, tetapi juga mengajak mereka berdiskusi, mengajukan pertanyaan, menyampaikan pendapat, dan menghubungkan isi buku dengan kehidupan nyata.

Dengan dukungan bahan bacaan yang berkualitas, akses buku yang lebih merata, serta pendampingan guru yang berkelanjutan, budaya literasi diharapkan semakin berkembang. Upaya tersebut menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi yang memiliki wawasan luas, daya nalar kuat, dan kemandirian berpikir untuk menghadapi tantangan masa depan.

Share your love

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *