Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Ranny Fahd Arafiq: Jangan Biarkan Tenaga Medis Bekerja dalam Tekanan Psikologis yang Membahayakan Nyawa - lkipartaigolkar

Ranny Fahd Arafiq: Jangan Biarkan Tenaga Medis Bekerja dalam Tekanan Psikologis yang Membahayakan Nyawa

Share your love

LKI Golkar – Wafatnya seorang dokter muda, dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr. Icha, di Nusa Tenggara Timur menyisakan duka mendalam bagi dunia kesehatan Tanah Air. Merespons tragedi memilukan tersebut, Anggota Komisi IX DPR RI, Ranny Fahd Arafiq, menyampaikan belasungkawa yang tulus sekaligus memberikan catatan penting bagi sistem pelayanan medis kita.

Menurutnya, peristiwa ini harus menjadi momentum kesadaran nasional bahwa tenaga medis sering kali bekerja di bawah tekanan psikologis yang sangat berat dan berisiko membahayakan nyawa mereka sendiri.

Ranny menyoroti bahwa rutinitas keseharian tenaga kesehatan, terutama mereka yang bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) maupun di daerah terpencil, sangatlah rentan terhadap guncangan mental. Setiap hari, para dokter dan perawat harus berpacu dengan waktu untuk mengambil keputusan krusial demi menyelamatkan pasien dalam situasi yang serba darurat. Dinamika pekerjaan dengan intensitas tinggi ini secara tidak sadar terus menumpuk beban emosional yang luar biasa besar di pundak para pahlawan kesehatan kita.

Oleh karena itu, Ranny menilai sudah saatnya manajemen rumah sakit dan fasilitas kesehatan mengubah paradigma pengelolaan sumber daya manusia mereka. Perhatian terhadap kualitas fasilitas kesehatan tidak boleh lagi hanya terfokus pada kelengkapan alat medis atau kemegahan infrastruktur bangunan semata. Kesehatan jiwa dan perlindungan psikologis bagi para dokter serta perawat wajib ditempatkan sebagai prioritas utama yang setara dengan keselamatan fisik.

Sebagai langkah mitigasi yang nyata, Ranny mendorong Kementerian Kesehatan dan seluruh jajaran direksi rumah sakit untuk segera menyediakan sistem pendampingan psikologis yang terintegrasi. Setiap fasilitas kesehatan perlu menyiapkan layanan konseling rutin yang mudah diakses oleh tenaga medis tanpa adanya stigma negatif. Selain itu, pengadaan ruang aman atau ruang relaksasi di rumah sakit sangat diperlukan agar tenaga medis memiliki waktu sejenak untuk menenangkan diri setelah menangani kasus-kasus yang menguras emosi.

Lebih lanjut, Ranny menekankan pentingnya membangun sistem deteksi dini terhadap gejala stres berlebihan atau burnout di lingkungan kerja. Manajemen rumah sakit harus secara berkala mengevaluasi beban kerja dan tekanan mental yang di alami para tenaga medis dalam bekerja, agar tetap manusiawi dan proporsional. Kelelahan fisik dan mental yang dibiarkan menumpuk tanpa adanya intervensi yang tepat dapat berujung pada depresi fatal yang sangat merugikan.

Diakhir pernyataannya, Ranny mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk turut berkontribusi dengan menunjukkan empati, kesabaran, dan sikap saling menghargai saat berinteraksi dengan tenaga medis yang sedang bertugas. Pelayanan kesehatan yang maksimal bagi masyarakat diyakini hanya bisa terwujud jika negara mampu memastikan para tenaga medisnya bekerja dalam kondisi fisik dan kejiwaan yang tangguh serta terlindungi.

Share your love

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *