Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Dipanggil Prabowo, Bahlil Bawa Kabar Terbaru Soal CNG 3 Kg dan PLTS 100 GW – lkipartaigolkar

Dipanggil Prabowo, Bahlil Bawa Kabar Terbaru Soal CNG 3 Kg dan PLTS 100 GW

Share your love

LKI Golkar – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menghadiri Rapat Terbatas (Ratas) bersama Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Senin (18/5/2026). Pertemuan tersebut membahas langkah strategis pengelolaan sumber daya alam serta akselerasi transisi energi nasional.

Bahlil mengungkapkan, agenda utama dalam Ratas tersebut berfokus pada penguatan sektor energi dan optimalisasi sumber daya alam guna menopang kemandirian energi yang menjadi prioritas pemerintahan Presiden Prabowo.

“Kalau saya seputar energi ya dan pengelolaan sumber daya sumber daya alam. Salah satu di antaranya juga ada terkait dengan PLTS 100 gigawatt,” ujar Bahlil kepada awak media di Istana Negara, Jakarta, Senin (18/5/2026).

Terkait proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas raksasa tersebut, Bahlil belum merinci lokasi pembangunannya. Proyek PLTS 100 GW ini sebelumnya santer disebut sebagai bagian dari visi Asta Cita Presiden Prabowo untuk mengejar target swasembada energi hijau dan menurunkan emisi karbon secara signifikan.

“Nanti, kalau sudah selesai detailnya, kami akan sampaikan ya,” imbuhnya.

Uji Coba CNG 3 Kilogram

Selain membahas energi terbarukan, Bahlil juga melaporkan perkembangan pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif pengganti LPG guna menekan ketergantungan impor gas. 

Bahlil menyebut penggunaan CNG untuk ukuran setara 12 kilogram dan 20 kilogram sudah mulai diimplementasikan di sektor komersial dan program strategis pemerintah.

“Ya, seperti saya laporkan pertama, menyangkut dengan CNG ya. Itu untuk 12 kilo sama 20 kilo lebihnya kan sudah jalan. Di hotel-hotel, restoran, di MBG itu sudah jalan,” papar Bahlil.

Pemanfaatan CNG di sektor MBG (Makan Bergizi Gratis) menjadi perhatian khusus mengingat program tersebut merupakan program unggulan Presiden Prabowo yang membutuhkan pasokan energi masak yang stabil dan efisien. 

Namun, untuk penggunaan di tingkat rumah tangga rakyat melalui tabung 3 kilogram, pemerintah masih melakukan pengujian ketat dari sisi keamanan.

“Tapi kan kita lagi melakukan uji coba terhadap tabung yang 3 kilogram untuk rakyat. Nah, 3 kilogram ini daya tekanannya kan besar, 250 bar. Jadi ini harus dicek dulu. Kalau sudah lolos uji, baru bisa kita (luncurkan),” jelasnya.

Bahlil merinci bahwa proses uji coba keamanan tabung bertekanan tinggi tersebut dilakukan di dua lokasi berbeda guna memastikan keselamatan pengguna sebelum didistribusikan secara massal.

“Ada dua. Satu, karena pabriknya itu ada di China. Dan yang kedua adalah kita akan melakukan di Indonesia ya,” ungkap Bahlil.

Sementara itu, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Laode Sulaeman, menyebutkan bahwa memang tabung CNG 3 kg untuk tahap awal akan diimpor dari Tiongkok.

Laode menjelaskan bahwa langkah impor ini dilakukan sebagai tahap awal implementasi sebelum industri dalam negeri mampu memproduksi tabung tersebut secara mandiri.

“Ya, China. Banyak sih negara yang memproduksi, tapi sejauh ini kita (melirik) China. (Berarti ada kemungkinan kita ambil dari sana nanti ?). Iya, seperti itu untuk tahap awal,” ungkap Laode saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Senin (18/5/2026).

Meski demikian, Laode belum bersedia mengungkapkan pihak mana yang nantinya akan ditugaskan untuk mengeksekusi impor tersebut. “Itu tunggu ya, nanti Pak Menteri yang akan mengumumkan,” lanjutnya.

Sebelumnya, dalam siniar (podcast) YouTube Kementerian ESDM, Laode menjelaskan bahwa tabung CNG ukuran setara 3 kg tersebut akan menggunakan teknologi Tipe 4. Karena ukuran ini belum diproduksi secara massal di dunia, diperlukan volume pesanan minimal (minimum order) sebanyak 100 ribu unit untuk memulai proses produksinya.

Nah, untuk memesan material barangnya ini, kita tidak boleh pesan sedikit, harus banyak. Minimum order sekitar 100 ribuan. Makanya, kalau ada yang bertanya kok belum dibuat? Ya, memang harus di-order 100 ribu unit atau lebih baru bisa diproduksi,” jelas Laode dikutip dari siniar YouTube Kementerian ESDM, Senin (18/5/2026).

Pemerintah menargetkan pesanan perdana (first order) dapat dilakukan dalam tiga bulan ke depan. Setelah pesanan tiba, dalam kurun waktu 1–2 bulan, tabung-tabung tersebut akan melewati serangkaian uji coba sebelum resmi dilepas ke masyarakat.

Laode menekankan bahwa meski tabung Tipe 4 memiliki biaya material yang lebih tinggi karena teknologinya yang mutakhir (advanced), secara keseluruhan penggunaan CNG tetap jauh lebih efisien dibandingkan LPG impor.

‘’Gas kita melimpah harganya murah, tapi tabungnya yang mahal karena material khusus. Namun, setelah dihitung, subsidi bisa berkurang 30 sampai 40% karena efisiensi penggunaan gas bumi kita sendiri,” pungkasnya.

Share your love

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *