
DPR RI Dewi Yustisiana Dorong Blok Migas Mangkrak Dikembalikan ke Negara
Share your love
LKI Golkar – DPR RI mendorong pemerintah mengevaluasi perusahaan minyak dan gas bumi (migas) yang tidak kunjung merealisasikan pengembangan blok migas meski telah memperoleh persetujuan Plan of Development (PoD).
Menurut Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Dewi Yustisiana, perusahaan yang tidak mampu menjalankan komitmen pengembangan blok migas perlu mengembalikan konsesinya kepada negara agar potensi produksi minyak nasional tidak terus tertahan.
Ia mendukung langkah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang meminta perusahaan migas segera merealisasikan pengembangan blok yang telah memperoleh persetujuan PoD.
“Blok migas yang sudah memiliki persetujuan pengembangan semestinya segera dikerjakan. Jangan sampai potensi produksi nasional tertahan karena perusahaan tidak kunjung merealisasikan komitmennya,” ujar Dewi dalam keterangannya, Senin (2/11/2026).
Dia menyoroti produksi minyak domestik yang saat ini berkisar 600.000-650.000 barrel per hari. Angka tersebut masih jauh di bawah kebutuhan minyak nasional yang mencapai sekitar 1,6 juta barrel per hari.
Kondisi itu membuat Indonesia masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan minyak dalam negeri.
Oleh karena itu, percepatan pengembangan blok migas dinilai penting untuk menambah produksi nasional.
Meski demikian, Dewi menilai evaluasi terhadap perusahaan pemegang konsesi harus dilakukan secara objektif dengan mempertimbangkan berbagai kendala, mulai dari aspek teknis, keekonomian proyek, hingga hambatan perizinan.
“Kalau perusahaan memang tidak mampu menjalankan proyeknya, pemerintah perlu mengambil langkah tegas sesuai aturan. Namun, hambatan yang berasal dari proses perizinan juga harus diselesaikan agar investasi tidak terus tertunda,” tegas legislator dari Daerah Pemilihan Sumatera Selatan II itu.
Selain mengevaluasi konsesi yang belum dikembangkan, Dewi juga mendorong pemerintah mempercepat perizinan, mengoptimalkan sumur-sumur tua, serta menerapkan teknologi untuk meningkatkan produksi minyak.
Menurutnya, upaya tersebut perlu disertai target dan jadwal pengembangan yang terukur agar potensi migas dapat segera memberikan tambahan produksi bagi Indonesia.
“Yang dibutuhkan sekarang adalah percepatan produksi yang nyata dan terukur. Setiap potensi migas harus dikelola secara optimal agar ketergantungan impor berkurang dan ketahanan energi nasional semakin kuat,” pungkasnya.



