
PLTS 100 GW Jadi Kesempatan Besar bagi Industri Dalam Negeri
Share your love
LKI Golkar – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) menjadi kesempatan besar bagi industri dalam negeri untuk terlibat dalam rantai pasok proyek energi baru terbarukan (EBT). Pemerintah, imbuhnya.
Bahlil menjelaskan pengembangan PLTS 100 GW merupakan bagian dari upaya pemerintah meningkatkan porsi EBT dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.
“Di RUPTL, kita dorong 70% adalah energi baru terbarukan dan kita menambah 100 GW PLTS,” ujarnya.
Dalam RUPTL 2025–2034, pemerintah menargetkan penambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 69,5 GW. Target tersebut menjadi bagian dari upaya memenuhi kebutuhan listrik sekaligus meningkatkan pemanfaatan energi bersih.
Bahlil mengatakan pemerintah menargetkan program PLTS 100 GW dapat direalisasikan dalam waktu sekitar tiga tahun. Tahapan awal program tersebut telah dimulai dengan peluncuran proyek berkapasitas sekitar 5,5 GW.
“Khusus PLTS 100 GW, kami rencanakan tiga tahun. Tahun ini sudah diluncurkan sekitar 5,5 GW tahap pertama,” kata Politikus Golkar itu.
Selanjutnya, pemerintah menargetkan proses tender proyek dengan kapasitas sekitar 25 GW hingga 30 GW mulai berjalan.
Percepatan tender diperlukan agar pembangunan pembangkit dapat segera masuk tahap pelaksanaan. Bahlil mengatakan pemerintah juga tengah melakukan penyesuaian aturan untuk mempercepat proses pengadaan proyek. Penyesuaian tersebut ditujukan bagi perusahaan yang memiliki kemampuan teknologi dan menawarkan keekonomian yang baik.
“Kita pangkas birokrasinya. Kalau memang ekonomis, kita tunjuk saja,” ujarnya.
Menurut Bahlil, proses pengadaan tetap harus memperhatikan prinsip keekonomian dan memberikan manfaat bagi seluruh pihak. Pemerintah tidak ingin proses birokrasi yang panjang menghambat realisasi proyek.
“Yang penting bisa saling menguntungkan dan win-win. Itu yang paling penting,” katanya.
Untuk mendukung percepatan program tersebut, Bahlil telah meminta PT PLN (Persero) segera melakukan komunikasi dengan seluruh pemangku kepentingan yang dapat mendukung pelaksanaan pengembangan PLTS 100 GW.
Bahlil menilai pengembangan energi terbarukan di Indonesia memiliki prospek besar seiring meningkatnya kebutuhan listrik, termasuk dari sektor industri dan pusat data. Kondisi tersebut membuka ruang bagi pengembangan kapasitas pembangkit sekaligus industri pendukungnya.
Dalam kesempatan sama, Direktur Utama PT PLN (Persero) sekaligus Ketua Dewan Pengawas Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI), Darmawan Prasodjo, mengatakan pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hingga 100 gigawatt (GW) menjadi bagian dari perubahan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).
Darmawan menyebut perubahan RUPTL tersebut mencakup tambahan kapasitas pembangkit sebesar 54 GW serta pengembangan baterai dengan kapasitas sekitar 100 GW. Dengan demikian, total kapasitas yang dikembangkan mencapai hampir 160 GW.
“Nilainya sekitar US$70,2 miliar. Ini total investasi yang ada,” kata Darmawan.
Selain pembangunan pembangkit, pengembangan sistem kelistrikan juga mencakup pembangunan jaringan transmisi dalam skala besar. Dalam RUPTL, PLN merencanakan pembangunan sekitar 70 GW kapasitas pembangkit serta 48.000 kilometer sirkuit jaringan transmisi.
Darmawan menilai panjang jaringan transmisi yang akan dibangun tersebut menunjukkan besarnya skala pengembangan kelistrikan nasional. Panjangnya bahkan melampaui satu kali keliling bumi yang mencapai sekitar 42.000 kilometer.
“Kalau keliling bumi saja sekitar 42.000 kilometer, ini masih ada sekitar 6.000 kilometer,” ujarnya.
Menurut Darmawan, besarnya rencana pengembangan energi baru dan terbarukan tersebut menempatkan Indonesia pada posisi penting dalam pengembangan energi bersih. Ia menyebut Indonesia berpotensi menjadi pusat pengembangan energi baru.
“Jadi, episentrum pengembangan energi baru ada di Indonesia,” kata Darmawan.
Dia menambahkan pengembangan tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto di sektor energi. Darmawan juga menyatakan PLN siap menjalankan arahan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia terkait pelaksanaan program PLTS 100 GW.
“Kami siap melaksanakan arahan dari bapak menteri ESDM sebagai panglima tempur di bidang energi,” pungkasnya.
Di sisi lain, Portfolio Director Enlit Asia Clarion Events Simon Hoare mengatakan, permintaan listrik di Asia Tenggara terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan industri. Kebutuhan tersebut juga didorong perkembangan data center dan infrastruktur digital.
“Indonesia berada di pusat dari berbagai perubahan ini,” kata Simon.
Ia mengatakan Enlit Asia dan Electricity Connect menjadi forum yang mempertemukan pembuat kebijakan, operator sistem ketenagalistrikan, pengembang proyek, investor, dan penyedia teknologi untuk membahas tantangan serta peluang pengembangan sektor ketenagalistrikan.
Simon menilai peningkatan kapasitas energi terbarukan, penguatan jaringan listrik, dan pengembangan berbagai teknologi ketenagalistrikan akan menjadi bagian penting dalam memenuhi kebutuhan listrik kawasan Asia Tenggara secara andal dan terjangkau.



