Ketua Komisi X DPR RI Dorong Pencegahan Perundungan Sejak Dini di Satuan PAUD - lkipartaigolkar

Ketua Komisi X DPR RI Dorong Pencegahan Perundungan Sejak Dini di Satuan PAUD

Share your love

LKI Golkar – Ketua Komisi X DPR RI Agung Widyantoro mendorong penguatan budaya sekolah yang aman dan nyaman sejak jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Upaya tersebut dinilai penting sebagai langkah awal mencegah terjadinya perundungan atau bullying di lingkungan pendidikan.

Pesan tersebut disampaikan Agung dalam workshop pendidikan bertema “Pencegahan Awal Perundungan (Bullying) dalam rangka Implementasi Budaya Sekolah Aman dan Nyaman pada Satuan PAUD” yang digelar bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Sabtu (19/9/2026), di Teras Padi Musim Semi, Brebes.

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Brebes Sutaryono, S.H., M.Si, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Kurniawan, S.T., M.B.A. serta narasumber yang memberikan penguatan mengenai pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan ramah bagi anak.

Agung mengatakan pencegahan perundungan tidak cukup dilakukan ketika kasus sudah terjadi. Menurutnya, pendidikan karakter, pengawasan, komunikasi, serta keterlibatan orang tua perlu dibangun sejak anak berada pada tahap pendidikan usia dini.

“Budaya sekolah aman dan nyaman harus dibangun sejak dini. Anak perlu mendapatkan pendidikan emosional, belajar mengenal toleransi dan kasih sayang, serta tumbuh dalam lingkungan yang membuat mereka merasa aman dan dihargai,” kata Agung.

Ia menjelaskan terdapat empat pilar budaya sekolah aman dan nyaman yang perlu diperkuat pada satuan PAUD.

Pilar pertama adalah edukasi emosional, yakni menanamkan nilai toleransi, kasih sayang, empati, dan sikap saling menghargai sejak dini. Menurut Agung, pembentukan karakter tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun interaksi positif antaranak.

Pilar kedua adalah pengawasan ramah anak. Pengawasan, kata Agung, harus dilakukan secara aktif terhadap lingkungan bermain dan belajar tanpa menciptakan suasana yang membuat anak merasa tertekan.

“Pengawasan bukan berarti membuat anak merasa diawasi secara berlebihan. Yang kita bangun adalah lingkungan yang aman, sehingga anak dapat bermain, belajar, dan berinteraksi tanpa rasa takut,” ujarnya.

Pilar ketiga adalah kanal pelaporan yang ramah. Agung menekankan pentingnya mekanisme pengaduan yang aman dan mudah diakses, baik oleh anak maupun orang tua, sehingga persoalan yang muncul dapat diketahui dan ditangani sejak awal.

Sementara pilar keempat adalah sinergi sekolah dan orang tua. Menurutnya, pencegahan perundungan tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah. Pola asuh di rumah harus berjalan seiring dengan nilai-nilai yang diterapkan di lingkungan pendidikan.

“Sekolah dan orang tua harus berjalan bersama. Apa yang diajarkan di sekolah perlu diperkuat di rumah, begitu juga sebaliknya. Dengan kolaborasi yang erat, kita dapat menciptakan lingkungan tumbuh kembang anak yang aman, nyaman, dan penuh kasih sayang,” kata Agung.

Agung berharap workshop tersebut tidak berhenti pada pemahaman secara teoritis, tetapi dapat diterapkan dalam keseharian di satuan PAUD. Menurutnya, menciptakan budaya sekolah yang aman dan nyaman merupakan bagian penting dari upaya memastikan anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal tanpa kekerasan dan perundungan.

Kegiatan bersama Kemendikdasmen tersebut menjadi bagian dari penguatan pemahaman pendidik dan pemangku kepentingan pendidikan mengenai pentingnya pencegahan perundungan sejak usia dini serta membangun ekosistem pendidikan yang ramah anak.

Share your love

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *