
Prabowo–Putin Semakin Akrab Bukti Kemajuan Indonesia-Rusia
Share your love
LKI Golkar – Dari persahabatan historis menuju kerja sama ekonomi, keuangan, teknologi, pertahanan dan kepentingan strategis kedua bangsa
Ada sesuatu yang menarik dari pertemuan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin. Bukan hanya soal jabat tangan, bukan sekadar protokol kenegaraan, dan bukan pula semata-mata sebuah pertemuan bilateral.
Di balik senyum kedua pemimpin itu, ada pesan yang jauh lebih besar: Indonesia dan Rusia sedang berusaha menerjemahkan persahabatan historis menjadi kemitraan strategis yang semakin konkret.
Pertemuan kedua pemimpin di Rusia berlangsung dalam suasana yang hangat dan penuh keakraban. Pemerintah Indonesia sendiri menyebut pertemuan tersebut sebagai momentum untuk memperkuat persahabatan dan kemitraan strategis kedua negara. Presiden Putin juga menyampaikan kegembiraannya dapat kembali bertemu dengan Presiden Prabowo.
Saya cukup lama mengenal karakter dan kepribadian masyarakat Rusia. Ada satu hal yang bagi saya menarik: orang Rusia memiliki tradisi persahabatan yang kuat. Ketika hubungan sudah terbangun, mereka dapat tampil sangat hangat, terbuka, murah senyum, dan dalam banyak keadaan menunjukkan kecenderungan untuk membantu sahabatnya.
Karena itu, tidak mengherankan apabila Presiden Prabowo berulang kali menggambarkan Rusia sebagai sahabat yang baik dan mitra yang penting bagi Indonesia.
Senyum dua pemimpin dan bahasa persahabatan
Foto pertemuan Presiden Prabowo dan Presiden Putin memberikan gambaran yang sederhana tetapi kuat.
Tidak tampak suasana kaku. Keduanya tersenyum, saling menyambut dan menunjukkan keakraban seorang sahabat.
Dalam diplomasi, bahasa tubuh sering kali memiliki makna. Tetapi yang jauh lebih penting adalah apa yang berada di balik pertemuan tersebut.
Presiden Prabowo secara terbuka menegaskan filosofi politik luar negeri Indonesia: “One thousand friends, too few. One enemy, too many.” Indonesia, katanya, ingin bersahabat dengan semua negara karena hanya melalui persahabatan dan kolaborasi kemakmuran dapat diwujudkan.
Inilah politik luar negeri Indonesia yang sesungguhnya: bebas aktif, tidak menjadi bagian dari blok kekuatan tertentu, tetapi aktif membangun sebanyak mungkin kemitraan untuk kepentingan nasional.
Maka kedekatan Prabowo dengan Putin tidak seharusnya dibaca secara sederhana sebagai keberpihakan Indonesia kepada Rusia.
Sebaliknya, ia harus dibaca sebagai politik persahabatan dan diplomasi kepentingan nasional Indonesia.
Rusia bukan sahabat baru bagi Indonesia
Hubungan Indonesia dengan Rusia tidak lahir kemarin.
Pada 2025, kedua negara memperingati 75 tahun hubungan diplomatik. Namun akar hubungan itu bahkan lebih tua daripada hubungan diplomatik formal tersebut.
Ketika Indonesia sedang mempertahankan kemerdekaan setelah Proklamasi 1945, Uni Soviet memberikan dukungan politik terhadap perjuangan Indonesia di forum internasional. Arsip Nasional Republik Indonesia mencatat bahwa Uni Soviet termasuk negara yang awal memberikan pengakuan dan dukungan terhadap Indonesia, sementara hubungan diplomatik resmi kedua negara terjalin pada 1950.
Dalam berbagai forum internasional, Uni Soviet juga mengecam agresi Belanda dan mendukung penyelesaian persoalan Indonesia. Dukungan tersebut merupakan bagian penting dari diplomasi internasional Indonesia pada masa awal kemerdekaan.
Karena itu, ketika kita berbicara mengenai hubungan Indonesia–Rusia, kita tidak sedang membangun persahabatan dari titik nol.
Ada sejarah panjang yang menjadi fondasinya. Dari Bung Karno hingga Prabowo Hubungan Indonesia dengan Uni Soviet berkembang pesat pada masa Presiden Soekarno.
Bantuan Uni Soviet kemudian tidak hanya berada dalam wilayah diplomasi, tetapi juga berkembang ke bidang ekonomi, pendidikan, infrastruktur dan pertahanan.
Berbagai proyek monumental menjadi bagian dari sejarah hubungan tersebut, termasuk pembangunan Stadion Utama Gelora Bung Karno dan berbagai proyek industri. Uni Soviet juga memberikan dukungan dalam bidang pertahanan ketika Indonesia memperjuangkan kepentingan nasionalnya, termasuk dalam konteks pembebasan Irian Barat.
Bahkan pada 1958, pemerintah Indonesia memperoleh persetujuan pinjaman dari Uni Soviet hingga US$100 juta untuk kerja sama ekonomi dan pembangunan perusahaan industri serta proyek-proyek yang diperlukan bagi perkembangan ekonomi Indonesia.
Artinya, sejarah Indonesia–Rusia sesungguhnya mempunyai satu pola yang menarik: ketika Indonesia membutuhkan dukungan pada masa-masa penting, Uni Soviet hadir sebagai salah satu mitra yang memberikan dukungan politik, ekonomi dan teknis.
Hari ini, sejarah tersebut tidak harus diulang dalam bentuk yang sama. Tetapi semangat persahabatannya dapat diteruskan dalam bentuk kemitraan baru.
Dari bantuan menuju partnership
Inilah bagian paling penting dari hubungan Prabowo–Putin. Indonesia hari ini bukan Indonesia tahun 1950-an.
Indonesia adalah negara dengan ekonomi besar, sumber daya strategis, pasar yang luas, bonus demografi, posisi geografis penting, dan peran yang semakin diperhitungkan dalam arsitektur ekonomi-politik dunia.
Karena itu hubungan dengan Rusia tidak boleh berhenti pada narasi bahwa Rusia adalah negara yang pernah membantu Indonesia.
Hubungan masa depan harus dibangun atas dasar kesetaraan.
Presiden Prabowo sendiri dalam pidatonya di St. Petersburg menyampaikan pesan yang sangat jelas: Indonesia tidak datang untuk meminta bantuan atau belas kasihan, tetapi ingin menjadi mitra yang nyata dan bersama-sama menciptakan kemakmuran.
Inilah paradigma baru hubungan Indonesia–Rusia: Dari hubungan donor-penerima menjadi hubungan partner-to-partner. Dari nostalgia sejarah menjadi kepentingan bersama.
Dari persahabatan politik menuju kerja sama ekonomi yang nyata. Ekonomi dan keuangan menjadi jantung hubungan baru Pertemuan Prabowo–Putin memberikan sinyal kuat bahwa masa depan hubungan kedua negara akan semakin ditentukan oleh sektor ekonomi.
Perdagangan, investasi, energi, pertanian, teknologi, industri, pertahanan, pendidikan dan bidang strategis lainnya semakin mendapatkan perhatian.
Presiden Putin sendiri menyampaikan bahwa hubungan ekonomi dan perdagangan kedua negara berkembang, sementara berbagai perspektif kerja sama terbuka di sektor pertanian, energi, eksplorasi ruang angkasa serta kerja sama militer-teknis.
Yang menarik adalah munculnya pembicaraan mengenai investasi dan penguatan hubungan keuangan.
Indonesia membutuhkan mitra investasi untuk pembangunan nasional. Rusia memiliki kapasitas teknologi, industri, energi dan sumber daya manusia yang dapat menjadi bagian dari proses tersebut.
Sementara Rusia juga membutuhkan akses yang lebih kuat terhadap pasar dan ekonomi Asia Tenggara. Di titik inilah kepentingan kedua negara bertemu.
Danantara dan peluang investasi Rusia
Presiden Prabowo bahkan secara terbuka memperkenalkan Danantara sebagai instrumen pengelolaan aset dan investasi strategis Indonesia.
Dalam pidatonya di SPIEF 2025, Presiden Prabowo menyatakan Indonesia terbuka bagi kelompok usaha dari berbagai negara, termasuk entitas Rusia, untuk berpartisipasi lebih besar dalam perekonomian Indonesia. Pesan ini sangat penting.
Indonesia tidak sedang mencari negara untuk menggantungkan masa depannya. Indonesia sedang mencari mitra strategis.
Rusia pun dapat mengambil posisi sebagai salah satu mitra tersebut, terutama dalam bidang-bidang yang memiliki kepentingan jangka panjang: energi, industri, teknologi, pertanian, transportasi, pendidikan, kesehatan, pertahanan dan teknologi tinggi.
Persahabatan harus menghasilkan manfaat bagi rakyat Pada akhirnya, diplomasi tidak boleh hanya menghasilkan foto indah para pemimpin.
Diplomasi harus menghasilkan lapangan pekerjaan, investasi, transfer teknologi, pendidikan, peningkatan perdagangan dan kesejahteraan rakyat. Itulah ukuran sebenarnya dari sebuah persahabatan antarnegara.
Jika hubungan Prabowo–Putin semakin erat, maka rakyat Indonesia tentu berharap hubungan itu membawa manfaat yang konkret.
Pengusaha Indonesia harus mendapatkan akses lebih luas ke pasar Rusia. Mahasiswa Indonesia harus mendapatkan kesempatan pendidikan dan riset yang lebih luas. Industri nasional harus mendapatkan transfer teknologi.
Petani dan sektor pangan dapat memperoleh kerja sama teknologi dan pasar. Industri energi dan manufaktur dapat memperoleh investasi. Dan yang paling penting, Indonesia harus tetap berada dalam posisi setara dan berdaulat menentukan kepentingan nasionalnya sendiri.
Indonesia dan Rusia: sahabat lama memasuki babak baru
Ada sebuah kalimat yang menurut saya tepat untuk menggambarkan hubungan kedua negara: “Persahabatan yang dibangun oleh sejarah harus diterjemahkan menjadi kemitraan untuk masa depan.”
Indonesia tidak melupakan dukungan Uni Soviet pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Rusia juga tidak melupakan Indonesia sebagai salah satu mitra pentingnya di Asia.
Kini generasi Prabowo dan Putin mempunyai kesempatan untuk membawa hubungan itu memasuki babak baru.
Bukan lagi sekadar hubungan emosional karena sejarah. Bukan pula sekadar hubungan politik karena kepentingan geopolitik. Tetapi hubungan yang dibangun atas dasar saling membutuhkan, saling menghormati dan saling menguntungkan.
Pertemuan Prabowo dan Putin karena itu layak dibaca lebih dalam. Senyum keduanya mungkin sederhana. Jabat tangan mereka mungkin hanya berlangsung beberapa detik. Tetapi di balik senyum dan jabat tangan itu terdapat pesan yang jauh lebih besar: Indonesia sedang membuka pintu lebih lebar bagi Rusia, dan Rusia sedang menunjukkan kesiapan untuk berjalan lebih dekat bersama Indonesia.
Dan bagi rakyat Indonesia, pertemuan dua sahabat itu memberikan harapan bahwa persahabatan lama tidak berhenti menjadi cerita sejarah—tetapi dapat berubah menjadi kekuatan ekonomi dan kemitraan strategis bagi masa depan.
Sebagaimana ditegaskan Presiden Prabowo, Indonesia ingin memiliki banyak sahabat dan terlalu sedikit musuh. Karena pada akhirnya, persahabatan antarbangsa bukan sekadar tentang siapa yang berdiri bersama kita pada masa lalu, tetapi siapa yang bersedia membangun masa depan bersama kita.



