
Wihaji: 128.000 Tim Akan Salurkan MBG Untuk Ibu Hamil Hingga Balita
Share your love
LKI Golkar – Distribusi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan menyasar kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Untuk keperlian ini akan dikerahkan sebanyak 128.000 tim pendamping keluarga.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala BKKBN, Wihaji, mengatakan, keterlibatan tim pendamping keluarga menjadi bagian dari upaya memperluas cakupan MBG, khususnya untuk menangani persoalan stunting dan kekurangan gizi pada kelompok rentan.
Untuk itu, kata Wihaji, kementeriannya mendapat mandat untuk menangani distribusi MBG bagi kelompok 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD.
“Berdasarkan kewenangan tata kelola MBG, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga bertugas mengurus distribusi MBG khusus kelompok 3B, yaitu ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD,” kata Wihaji di Jakarta, Rabu, 29 Juli 2026.
Menurut Wihaji, saat ini sebanyak 128.000 tim pendamping keluarga telah dikerahkan untuk mendistribusikan MBG kepada kelompok tersebut.
Wihaji menjelaskan, dalam rapat koordinasi terkait pelaksanaan MBG juga disepakati bahwa penanganan stunting menjadi tanggung jawab bersama antar instansi. Salah satu langkah yang dilakukan adalah sinkronisasi data penerima manfaat. Pendataan akan menggabungkan data anak sekolah dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, data pondok pesantren dari Kementerian Agama, serta data ibu hamil, ibu menyusui, dan balita dari kementeriannya.
“Insyaallah sebelum tanggal 5 seluruh pendataan bisa dirapikan sehingga pelaksanaannya ke depan menjadi lebih baik,” kata Wihaji.
Sebelumnya, pemerintah sudah memetakan wilayah yang membutuhkan intervensi gizi segera. Terutama daerah dengan angka stunting tinggi seperti Papua, Nusa Tenggara Timur, serta sejumlah wilayah di Sumatera dan Jawa.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyebut prioritas pelaksanaan MBG akan diarahkan berdasarkan data kebutuhan gizi, termasuk daerah dengan tingkat stunting tinggi.
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyebut program MBG memiliki peran penting dalam memperbaiki persoalan gizi nasional. Berdasarkan data Susenas 2024, sekitar 112 juta masyarakat Indonesia masuk dalam kelompok empat desil terbawah yang mengalami kekurangan gizi.



