
Wagub Sumut Ajak Pesantren Jadi Mitra Cegah dan Tanggulangi TB
Share your love
LKI Golkar – Sumatera Utara (Sumut) menyandang predikat provinsi dengan beban tuberkulosis (TB) terbesar keempat di Indonesia, namun capaian penemuan kasusnya baru 59,2 persen dari target 90 persen.
Fakta itu terungkap saat peluncuran Gerakan Nasional Pesantren Bebas TB di Pondok Pesantren Mawaridussalam, Desa Tumpatan, Kecamatan Batangkuis, Deliserdang, Rabu (4/11).
Wakil Gubernur (Wagub) Sumut Surya mengungkapkan, tahun ini terdapat estimasi 74.304 kasus TB yang harus ditemukan di Sumut. Hingga 30 Oktober 2026, kasus yang berhasil ditemukan baru 43.976 atau 59,2 persen.
“Tuberkulosis masih menjadi tantangan besar kesehatan masyarakat. Sumatera Utara termasuk provinsi dengan beban TB terbesar keempat di Indonesia. Terdapat estimasi 74.304 kasus yang harus ditemukan pada tahun 2026 dengan target penemuan 90%. Hingga 30 Oktober 2026, kasus yang berhasil ditemukan sebanyak 43.976 kasus atau 59,2%,” ujar Surya.
Dengan waktu tersisa sekitar dua bulan, selisih capaian terhadap target masih lebar. Untuk memenuhi target 90 persen, Sumut harus menemukan sekitar 66.874 kasus, artinya masih ada puluhan ribu kasus yang belum terdeteksi.
Surya mengapresiasi kepercayaan Pemerintah Pusat yang memilih Deliserdang sebagai lokasi peluncuran gerakan nasional sekaligus pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) Nasional Tahun 2026.
Ia menegaskan, sektor kesehatan adalah fondasi pembangunan sumber daya manusia (SDM) berkualitas, sehingga pesantren harus menjadi mitra strategis pemerintah lewat edukasi, deteksi dini, dan pembiasaan pola hidup sehat.
Surya juga menepis anggapan bahwa pesantren menjadi penyebab penularan TB. Menurutnya, pesantren justru berperan penting memutus rantai penyebaran penyakit itu. Ia mengajak masyarakat menghapus stigma dan diskriminasi terhadap penderita TB.
Peluncuran dihadiri tiga wakil menteri Kabinet Merah Putih, Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Muhammad Syafii, Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) dr. Benjamin Paulus Octavianus, dan Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Akhmad Wiyagus.
Romo Syafii menyebut kegiatan tersebut disaksikan secara daring oleh seluruh Kantor Wilayah Kementerian Agama, kantor Kemenag kabupaten/kota, dan pondok pesantren di seluruh Indonesia.
“Meskipun dilaksanakan di Deliserdang, ini adalah wajah Indonesia. Pesantren dengan 11 juta santri dan 1,7 juta kiai merupakan pilar penting bangsa,” kata Romo Syafii.
Ia menambahkan, kolaborasi lintas kementerian itu merupakan wujud penerapan Maqashid Syariah, khususnya menjaga jiwa (hifzh an nafs) dan menjaga keturunan (hifzh an nasl). Setelah Sumut, program serupa dijadwalkan berlanjut ke Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga DKI Jakarta.
Wamenkes Benjamin memaparkan, Indonesia kini menempati urutan kedua dunia dengan kasus TB terbanyak setelah India. Kondisi itu mendorong Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan penanganan TB secara lebih intensif.
“Hingga saat ini, lebih dari 114 juta warga Indonesia telah memanfaatkan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG). Melalui pencanangan Pesantren Bebas TB ini, pemerintah ingin memastikan warga pesantren terbebas dari penularan serta mendorong para santri menjadi Duta Kesehatan,” terangnya.
Ia juga menyebut pemerintah mengalokasikan Rp120 triliun untuk merehabilitasi 441 rumah sakit daerah dan memperbarui 1.988 puskesmas di seluruh Indonesia mulai tahun depan.
Pimpinan Ponpes Mawaridussalam Busron Sudarmanto mengaku bersyukur pesantrennya dipilih sebagai pusat peluncuran. Menurutnya, santri dan pengajar membutuhkan kondisi fisik prima untuk belajar dan mengajar.
“Ini merupakan berkah luar biasa bagi kami. Santri dan pengajar membutuhkan kondisi fisik yang prima untuk menjalankan tugas belajar dan mengajar. Kami sangat berterima kasih atas perhatian nyata dari Pemerintah Pusat dan Pemprov Sumut,” tutur Busron.



