
PAD Meningkat, Stunting Menurun, Dua Inovasi Bontang Diuji di Tingkat Nasional
Share your love
LKI Golkar – Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang mengandalkan dua inovasi unggulan dalam ajang Innovative Government Award (IGA) 2026. Yakni, Bapenda Etam yang berfokus pada digitalisasi perpajakan daerah dan Pangan Lanting untuk mendukung percepatan penanganan stunting.
Kedua program tersebut dipaparkan langsung Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni di hadapan tim penilai tingkat nasional secara daring, Kamis (5/11/2026). Presentasi itu turut diikuti Sekretaris Daerah Bontang Sony Suwito Adicahyono serta sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD).
Dalam pemaparannya, Neni menyampaikan sejumlah capaian dari penerapan kedua inovasi tersebut. Salah satunya peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang naik dari Rp495 miliar menjadi Rp729 miliar melalui digitalisasi perpajakan.
“Keberhasilan inovasi harus diukur dari dampak nyata bagi kesejahteraan warga. Pemerintah Kota Bontang berkomitmen penuh untuk memastikan keberlanjutan program-program ini melalui dukungan regulasi, penganggaran, penguatan SDM, adopsi teknologi, serta kolaborasi lintas sektor,” kata Neni.
Bapenda Etam menjadi salah satu inovasi yang dipaparkan. Program digitalisasi perpajakan daerah tersebut dikembangkan secara mandiri dan terintegrasi dengan sistem pembayaran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
Penerapannya turut mendorong peningkatan transaksi digital daerah hingga 225 persen. Nilainya bertambah dari Rp75 miliar menjadi Rp244 miliar. Inovasi ini juga mulai menarik perhatian sejumlah daerah lain, seperti Kabupaten Kutai Barat, Kutai Kartanegara, dan Paser yang disebut tertarik mengadopsi sistem serupa.
Selain penguatan pendapatan, Pemkot Bontang memaparkan Pangan Lanting sebagai program penanganan stunting. Inovasi ini melibatkan 120 posyandu dengan sasaran 8.944 anak.
Pelaksanaannya mencakup deteksi dini, pendampingan keluarga, intervensi gizi sesuai kebutuhan, hingga edukasi secara intensif. Melalui program tersebut, prevalensi stunting di Bontang disebut turun dari sekitar 29 persen menjadi 20 persen.
Cakupan penimbangan balita juga meningkat dari sebelumnya 48 persen menjadi 93 persen.
Neni menilai keberlanjutan inovasi tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan berbagai sektor. Dukungan regulasi, penganggaran, sumber daya manusia, teknologi, dan kolaborasi menjadi bagian penting agar program tetap berjalan.
Dalam kesempatan itu, Neni turut menyampaikan sejumlah indikator pembangunan makro Bontang. Pertumbuhan ekonomi nonmigas tercatat 6,33 persen, angka kemiskinan 3,21 persen, dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mencapai 83,04.Sementara itu, Indeks Inovasi Daerah Bontang mencapai 60,94 pada 2025. Hingga 2026, terdapat 48 inovasi aktif yang dikembangkan di lingkungan Pemkot Bontang.
IGA 2026 diikuti 541 pemerintah daerah dengan total 48.246 inovasi. Tahapan presentasi kepala daerah nominator diselenggarakan Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri pada 3–5 November 2026.
Pemkot Bontang berharap capaian Bapenda Etam dan Pangan Lanting dapat memperkuat posisi daerah dalam penilaian nasional sekaligus menjadi contoh pengembangan pelayanan publik bagi daerah lain.



