
Nurul Arifin Desak Perlindungan Maksimal Pasukan Perdamaian di Lebanon
Share your love
LKI Golkar – Anggota Komisi I DPR RI Nurul Arifin meminta pemerintah memberikan jaminan keamanan dan perlindungan maksimal bagi 744 prajurit TNI yang akan diberangkatkan dalam misi perdamaian ke Lebanon pada Mei 2026. Penegasan ini muncul sebagai respons atas meningkatnya eskalasi konflik di perbatasan Israel-Lebanon belakangan ini.
Politikus Partai Golkar tersebut menilai bahwa pengiriman personel ini merupakan perwujudan diplomasi nyata Indonesia di kancah internasional. Dilansir dari Nasional, Nurul mengingatkan bahwa negara memiliki kewajiban untuk memastikan setiap prajurit mendapatkan dukungan penuh serta sistem keamanan yang mumpuni selama bertugas di wilayah konflik.
“Jadi yang harus dijaga adalah keseimbangan antara kepentingan diplomasi internasional dan keamanan prajurit kita di lapangan,” kata Nurul Arifin, Anggota Komisi I DPR RI.
Nurul menyoroti perubahan situasi di Lebanon yang kini jauh lebih berbahaya dibandingkan periode sebelumnya. Ia menyebutkan adanya peningkatan risiko serangan yang menyasar pasukan penjaga perdamaian PBB di wilayah perbatasan tersebut.
“Kita mencatat ada prajurit TNI yang terluka pada 2024, dan bahkan gugurnya empat prajurit Indonesia dalam insiden di Lebanon tahun 2026 menjadi alarm serius bahwa kawasan tersebut memang berada dalam kondisi sangat berbahaya,” ungkap Nurul Arifin, Anggota Komisi I DPR RI.
Evaluasi menyeluruh terhadap alutsista, intelijen lapangan, hingga prosedur evakuasi darurat menjadi poin utama yang ditekankan oleh DPR kepada pemerintah. Hal ini bertujuan agar misi kemanusiaan tersebut tetap mengedepankan keselamatan nyawa personel militer yang bertugas.
“Jangan sampai semangat menjaga perdamaian justru mengorbankan keselamatan prajurit kita,” ungkap Nurul Arifin, Anggota Komisi I DPR RI.
Pemerintah Indonesia sebelumnya telah menjadwalkan pengiriman 744 prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Kontingen Garuda (Satgas Konga) untuk misi United Nations Interim Force in Libanon (UNIFIL). Menteri Luar Negeri Sugiono telah memberikan arahan khusus terkait risiko tinggi yang dihadapi pasukan di lapangan.
“Tempat kalian ditugaskan adalah tempat yang tidak damai sama sekali dan penuh risiko. Artinya, kemampuan dan keterampilan sebagai prajurit harus disiapkan dan digunakan dengan sebaik-baiknya,” kata Sugiono, Menteri Luar Negeri.
Arahan tersebut disampaikan Sugiono dalam Rapat Koordinasi Misi Pemeliharaan Perdamaian pada Senin, 11 Mei 2026. Para prajurit diharapkan dapat menjaga profesionalisme dan semangat tinggi karena membawa reputasi negara di mata dunia internasional.



