
Narasi Indonesia Gelap Menguat, Sekjen Golkar Dorong Perlawanan di Ruang Digital
Share your love
LKI Golkar – Sekretaris Jenderal Partai Golkar Sarmuji menilai narasi Indonesia Gelap yang muncul dalam aksi massa tidak lepas dari lemahnya penyebaran informasi mengenai berbagai hal positif yang terjadi di Tanah Air.
Menurut Sarmuji, ruang digital saat ini terlalu mudah dipenuhi narasi negatif karena informasi yang baik tidak disampaikan secara terorganisasi. Akibatnya, persepsi publik terhadap kondisi Indonesia dinilai dapat terbentuk oleh derasnya arus informasi di media sosial, bukan semata-mata oleh fakta.
“Kita tahu ada adagium kejahatan yang terorganisir bisa mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir. Dan ini juga berlaku di media sosial dan di dunia digital,” kata Sarmuji seusai membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bidang Media dan Penggalangan Opini (MPO) di Kantor DPP Golkar, Jakarta Barat, Jumat (6/11/2026).
Sarmuji menyinggung fenomena post-truth, ketika persepsi dan opini dapat lebih dominan daripada fakta dalam membentuk pandangan masyarakat. Menurutnya, derasnya informasi yang beredar di media sosial tidak otomatis menjamin kebenaran informasi tersebut.
“Kita tahu sekarang, kadang-kadang di era post-truth ini, kebenaran seolah-olah ditentukan oleh kuatnya algoritma saja, padahal kenyataannya tidak begitu,” ujarnya.
Sarmuji secara khusus menanggapi istilah Indonesia Gelap yang digunakan dalam sejumlah aksi massa. Ia menyatakan tidak sepakat dengan gambaran bahwa Indonesia berada dalam kondisi gelap.
“Yang ada adalah ketiadaan cahaya,” katanya.
Ia menilai narasi tersebut dapat terbentuk ketika informasi yang menggambarkan perkembangan dan capaian Indonesia tidak hadir secara kuat di ruang digital. Karena itu, ia mendorong pembentukan ekosistem media sosial yang mampu menghadirkan informasi secara lebih berimbang.
“Ekosistem digital ini kita bentuk untuk menghadirkan terang, menghadirkan cahaya, agar pandangan orang terhadap Indonesia ini menjadi lebih fair, lebih senyatanya, tidak dipenuhi oleh narasi bahwa Indonesia gelap,” imbuhnya.
Menurut Sarmuji, upaya membangun persepsi yang lebih berimbang tidak cukup dilakukan oleh satu kelompok. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk kader Golkar, aktif menyebarkan informasi mengenai berbagai perkembangan positif di Indonesia.
Sarmuji menilai narasi negatif dapat mendominasi ruang publik ketika pihak yang memiliki informasi positif tidak bekerja secara bersama-sama. Ia menyebut gotong royong dalam menghadirkan informasi sebagai salah satu cara untuk mengimbangi derasnya narasi pesimistis.
“Ada narasi Indonesia gelap, karena kita semua, anak-anak bangsa ini, tidak bergotong-royong untuk menghadirkan cahaya mengatasi kegelapan,” ujarnya.
Ia berharap internal Golkar dapat mengambil peran dalam membangun ekosistem digital yang menyampaikan gambaran Indonesia secara lebih utuh.
“Tapi kalau kita bersama-sama, terutama di internal Golkar, bersama-sama menghadirkan cahaya, Insyaallah Indonesia tidak akan dilihat menjadi gelap, tetapi Indonesia senyatanya adalah terang benderang penuh cahaya,” sambungnya.



