Menkomdigi Meutya Hafid: Kader Partai Golkar Harus Miliki Kemampuan Pantau Percakapan Publik, Membaca Tren dan Identifikasi Isu - lkipartaigolkar

Menkomdigi Meutya Hafid: Kader Partai Golkar Harus Miliki Kemampuan Pantau Percakapan Publik, Membaca Tren dan Identifikasi Isu

Share your love

LKI Golkar – Perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah peta komunikasi dan pertarungan politik. Di tengah kemudahan teknologi memproduksi informasi, Partai Golkar menilai kekuatan politik ke depan tetap harus bertumpu pada kedekatan dengan masyarakat, kepercayaan publik, serta kemampuan membaca aspirasi dari daerah.

Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar, Meutya Hafid, menegaskan bahwa transformasi digital harus berjalan seiring dengan penguatan karakter politik bottom up yang menjadi salah satu fondasi Partai Golkar. Menurutnya, kekuatan komunikasi partai ke depan harus semakin bertumpu pada aktivitas dan kontribusi kader di daerah.

Hal tersebut disampaikan Meutya dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Media, Digital dan Semiloka AI Partai Golkar yang diselenggarakan Bidang Media dan Penggalangan Opini (MPO) DPP Partai Golkar di Jakarta, 6-7 November 2026.

Ia menjelaskan, perkembangan politik saat ini semakin memperkuat relevansi pendekatan bottom up. Informasi mengenai aktivitas dan kerja nyata kader di daerah harus menjadi sumber utama komunikasi partai, sementara pusat berperan memperkuat publikasi dan memperluas jangkauannya secara nasional.

“Kita tambah meyakini bahwa konsep Golkar yang bottom up sangat kontekstual dengan dunia politik saat ini. Harus mulai dari daerah, harus berkekuatan dari daerah, kemudian pusat,” ujar Srikandi partai berlambang beringin yang dipimpin Bahlil Lahadalia ini.

Di sisi lain, Meutya mengingatkan bahwa AI telah mendemokratisasi produksi informasi. Individu, komunitas, hingga partai politik kini memiliki kesempatan yang sama untuk memproduksi dan menyebarkan konten. Namun, perkembangan ini juga menghadirkan tantangan berupa manipulasi opini publik melalui akun otomatis atau bot yang semakin sulit dibedakan dari interaksi manusia.

Menurutnya, teknologi AI memungkinkan produksi komentar dan percakapan digital dengan bahasa yang semakin spesifik dan menyerupai manusia. Kondisi tersebut menuntut partai politik memiliki kemampuan lebih baik dalam memantau percakapan publik, membaca tren, serta mengidentifikasi isu yang berkembang di masyarakat.

“Di era kecerdasan artifisial, partai politik tidak cukup hanya menguasai teknologi informasi. Partai harus memiliki kecerdasan memahami masyarakat. AI boleh membantu kita memproduksi informasi, tetapi hanya kedekatan dengan rakyat, integritas, dan kepercayaan publik yang akan menentukan masa depan politik kita,” tegasnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Meutya mendorong penguatan fungsi political listening di seluruh struktur Partai Golkar. Kemampuan mendengarkan percakapan publik, memahami keluhan masyarakat, dan membaca persepsi terhadap partai harus menjadi bagian penting dari strategi komunikasi digital.

Ia juga meminta DPD Partai Golkar di seluruh Indonesia memperkuat kepengurusan MPO dengan menempatkan figur yang memiliki kesiapan waktu, tenaga, dan kapasitas untuk mengelola dinamika digital. Menurutnya, pengelolaan komunikasi digital membutuhkan konsistensi, mulai dari pemantauan isu hingga produksi konten.

Meutya menambahkan, pemanfaatan AI dapat membantu meningkatkan efektivitas kerja tersebut, sehingga proses pemantauan, analisis tren, dan produksi konten tidak harus dilakukan secara manual. Melalui Rakornas dan Semiloka AI ini, peserta juga mendapatkan pembekalan praktis mengenai pemanfaatan teknologi digital, termasuk dari platform Instagram dan TikTok.

Ia berharap kegiatan tersebut menghasilkan peningkatan kapasitas yang benar-benar diterapkan oleh seluruh jajaran partai, terutama di tingkat daerah.

“Setelah ada peningkatan kapasitas, insyaallah kita sama-sama aktivasi. Ini komitmen yang harus kita bangun. Kalau tidak, pertemuan kita mubazir,” ujarnya.

Lebih jauh, Meutya menekankan bahwa penguatan ekosistem digital juga menjadi bagian dari konsolidasi Partai Golkar menuju Pemilu 2029. Infrastruktur komunikasi, pengelolaan data, dan kemampuan analisis yang dibangun saat ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh berbagai bidang, termasuk bidang yang menangani strategi pemenangan pemilu.

Ia mencontohkan pentingnya penguatan database melalui infrastruktur organisasi seperti PPID dan BSNPG. Dengan sistem data yang kuat, berbagai bidang di internal partai nantinya dapat memanfaatkan infrastruktur tersebut untuk mendukung kerja-kerja politik dan pemenangan.

Meutya menegaskan, konsolidasi digital, peningkatan kapasitas kader, dan penguatan basis data harus berjalan beriringan. Dengan mengoptimalkan kekuatan daerah serta memanfaatkan perkembangan teknologi secara tepat, Partai Golkar diharapkan memiliki ekosistem komunikasi yang lebih adaptif dan solid dalam menghadapi kontestasi politik 2029.

Share your love

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *