Enter your email address below and subscribe to our newsletter

DPR Minta Sekolah Tak Sekadar Aman di Atas Kertas - lkipartaigolkar

DPR Minta Sekolah Tak Sekadar Aman di Atas Kertas

Share your love

LKI Golkar – Ledakan bom rakitan yang diduga dibuat seorang siswa di lingkungan MAN 3 Padang, Sumatra Barat, menjadi sorotan Komisi X DPR RI. Peristiwa yang tidak menimbulkan korban jiwa itu dinilai sebagai alarm bahwa sekolah belum sepenuhnya menjadi ruang aman bagi peserta didik maupun tenaga pendidik.

Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian mengatakan konsep Sekolah Aman tidak boleh berhenti sebagai slogan ataupun sekadar dokumen administratif. Menurutnya, ukuran keberhasilan sekolah tidak hanya dilihat dari capaian akademik, tetapi juga dari rasa aman yang dirasakan guru, siswa, dan seluruh warga sekolah.

“Peristiwa ini menjadi peringatan bagi kita semua bahwa sekolah belum jadi ruang aman. Panduan Sekolah Aman tidak boleh berhenti sebagai slogan atau dokumen administratif,” ujar Hetifah, Rabu (15/7).

Ia menilai penguatan literasi risiko perlu menjadi bagian dari pendidikan di sekolah. Peserta didik harus memahami sejak dini bahwa perundungan, kekerasan, penyalahgunaan teknologi, hingga tindakan merakit bahan peledak bukan hanya melanggar tata tertib sekolah, tetapi juga membahayakan keselamatan orang lain serta memiliki konsekuensi hukum.

Menurut Hetifah, upaya pencegahan harus diperkuat melalui pendidikan karakter, literasi digital, literasi hukum, layanan bimbingan dan konseling (BK) yang efektif, serta sistem deteksi dini dan pelaporan yang berjalan baik. Komisi X DPR RI, kata dia, akan terus mendorong implementasi nyata konsep Sekolah Aman agar kejadian serupa tidak terulang.

Sementara itu, Polresta Padang masih mendalami kasus ledakan yang terjadi di MAN 3 Padang pada Selasa (14/7). Seorang siswa berinisial R, 17, telah diamankan dan menjalani pemeriksaan dengan pendampingan orang tua karena masih berstatus anak.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Padang Kompol M Yasin mengatakan dari pemeriksaan awal diketahui R mempelajari cara merakit bom secara otodidak melalui internet selama sekitar empat bulan. Bahan baku dan peralatan diperoleh melalui toko daring, kemudian dirakit secara diam-diam di rumah tanpa sepengetahuan keluarga.

Polisi juga mengungkap dugaan motif di balik aksi tersebut. Berdasarkan keterangan awal, R mengaku mengalami perundungan secara verbal maupun nonverbal sejak sekolah dasar hingga duduk di bangku kelas XII MAN. Tekanan psikologis itu diduga mendorong pelaku membawa dan meledakkan bom rakitan di lingkungan sekolah sebagai bentuk pelampiasan dan pencarian pengakuan. Kepolisian masih berkoordinasi dengan Mabes Polri dan Densus 88 Antiteror untuk penanganan lebih lanjut.

Share your love

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *