Dave Laksono : Kehadiran Kapal Induk Giuseppe Garibaldi, Jangan Sekadar Jadi Simbol Kebanggaan Saja... - lkipartaigolkar

Dave Laksono : Kehadiran Kapal Induk Giuseppe Garibaldi, Jangan Sekadar Jadi Simbol Kebanggaan Saja…

Share your love

LKI Golkar – Kapal induk Giuseppe Garibaldi yang dihibahkan pemerintah Italia kepada Indonesia dijadwalkan tiba di Tanah Air pada pertengahan September 2026. Kapal yang nantinya berganti nama menjadi KRI Gajah Mada itu dinilai dapat memperkuat posisi Indonesia di tengah dinamika geopolitik kawasan Indo-Pasifik yang terus berkembang.

Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali mengatakan, kapal tersebut masih menggunakan nama ITS Giuseppe Garibaldi dan bendera Italia selama perjalanan. Namun, setelah tiba di Indonesia dan kepemilikannya resmi berpindah, kapal akan berganti nama menjadi KRI Gajah Mada serta menggunakan bendera Merah Putih.

“Namanya masih ITS Garibaldi, masih berbendera Italia. Tapi, sesampainya di Indonesia akan berganti bendera Merah Putih dan menjadi KRI Gajah Mada. Mohon doanya, semoga selamat dalam perjalanan, sukses,” ujar Ali.

Lantas seberapa strategis kehadiran kapal induk yang mampu membawa 18-20 pesawat tempur ini untuk pertahanan Indonesia? Bukan sekadar kapal induk Wakil Ketua Komisi I DPR Dave Laksono menilai masuknya Giuseppe Garibaldi ke jajaran TNI AL memiliki bobot strategis di tengah dinamika geopolitik Indo-Pasifik.

Menurut dia, kapal induk tidak hanya dilihat sebagai alat tempur, tetapi juga sebagai simbol yang dapat memengaruhi persepsi negara-negara lain terhadap postur pertahanan Indonesia.

“Di tengah dinamika geopolitik Indo-Pasifik yang terus bergerak, langkah ini punya bobot strategis tersendiri, sebab kapal induk bukan sekadar alat tempur, melainkan simbol yang ikut membentuk cara kawasan membaca postur pertahanan Indonesia,” kata Dave kepada Kompas.com, Jumat (28/8/2026).

Ia mengatakan, kehadiran kapal tersebut dapat memperkuat kredibilitas Indonesia sebagai negara maritim.

Terlebih, Indonesia berada di kawasan yang memiliki sejumlah jalur pelayaran strategis dan berhadapan dengan dinamika keamanan di wilayah seperti Laut Natuna Utara.

“Dari sisi posisi Indonesia di kawasan, kapal ini memperkuat kredibilitas Indonesia sebagai poros maritim sekaligus menambah daya tawar diplomatik, terutama terkait stabilitas Laut Natuna Utara dan jalur pelayaran strategis lainnya,” ujar politikus Partai Golkar itu.

Menurut Dave, keberadaan kapal tersebut juga sejalan dengan arah pengembangan kemampuan TNI AL menuju konsep Blue Water Navy, yakni kemampuan angkatan laut untuk menjalankan operasi dengan jangkauan lebih jauh.

Meski demikian, Dave menekankan bahwa peningkatan kemampuan tersebut tidak berarti Indonesia harus mengubah karakter politik pertahanannya. Kehadiran Garibaldi yang kelak berubah nama KRI Gajah Mada, kata dia, tetap harus ditempatkan dalam kerangka politik pertahanan Indonesia yang defensif.

“Ini juga sejalan dengan arah TNI AL menuju konsep Blue Water Navy, yang memberi efek gentar tanpa mengubah watak dasar politik pertahanan Indonesia yang tetap defensif,” tegasnya.

Bisa jadi instrumen diplomasi Pengamat pertahanan sekaligus Co-founder Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS) Dwi Sasongko melihat nilai strategis Giuseppe Garibaldi sangat bergantung pada kemampuan Indonesia mengoperasikan kapal tersebut secara efektif dan efisien.

Pasalnya, Garibaldi bukan kapal baru. Kapal tersebut merupakan kapal bekas dengan usia yang sudah cukup tua.

“Nilai strategis Garibaldi sangat tergantung pada seberapa efektif dan efisien kapal ini dapat dioperasikan. Kita harus ingat bahwa ini kapal bekas dan sudah berusia tua,” kata Dwi kepada Kompas.com, Kamis (27/8/2026).

Menurut Dwi, apabila Garibaldi dapat dioperasikan dengan biaya yang proporsional dan memiliki tingkat kesiapan yang baik, kapal tersebut dapat menjadi instrumen diplomasi Indonesia di kawasan.

Kehadiran kapal berukuran besar dengan kemampuan membawa berbagai fasilitas memungkinkan Indonesia meningkatkan keterlibatan dalam kerja sama maritim dengan negara lain.

Kapal itu, kata dia, dapat digunakan untuk latihan bersama, kerja sama maritim, hingga misi bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana.

“Jika Garibaldi dapat dioperasikan dengan biaya yang proporsional dan tingkat kesiapan yang baik, kapal ini dapat menjadi instrumen diplomasi Indonesia di kawasan,” nilai Dwi.

Keuntungan dan beban Dwi mengatakan, Garibaldi memang memberikan kemampuan yang sebelumnya belum dimiliki TNI AL, terutama sebagai platform besar yang dapat membawa helikopter, personel, fasilitas medis, dan logistik dalam jumlah besar.

Kemampuan tersebut membuat kapal induk tidak harus selalu dipandang dari perspektif peperangan.

Dalam operasi selain perang (OMSP), misalnya, kapal semacam ini dapat digunakan sebagai pangkalan bergerak untuk mendukung penanganan bencana di wilayah kepulauan yang sulit dijangkau.

Namun, kemampuan tersebut juga memiliki konsekuensi.

Status Garibaldi sebagai kapal bekas dan berusia tua berpotensi membuat biaya pemeliharaannya menjadi persoalan tersendiri. “Di satu sisi, Garibaldi memberikan kemampuan yang sebelumnya belum dimiliki TNI AL, terutama sebagai platform besar untuk membawa helikopter, personel, fasilitas medis, dan logistik dalam jumlah besar,” kata Dwi.

“Namun di sisi lain, karena kapal ini merupakan kapal bekas dan sudah sangat tua, bukan tidak mungkin keberadaannya justru menambah beban pemeliharaan TNI,” sambungnya.

Menurut dia, biaya yang harus diperhitungkan bukan hanya pemeliharaan kapal. Operasional kapal besar juga membutuhkan anggaran untuk kru, bahan bakar, suku cadang, perawatan, fasilitas pangkalan, hingga berbagai sistem pendukung.

Karena itu, manfaat strategis Garibaldi baru dapat dinilai secara lebih objektif setelah Indonesia mengetahui kondisi riil kapal dan melihat bagaimana kapal tersebut dioperasikan.

“Operasional kapal induk memang membutuhkan biaya yang besar, bukan hanya untuk kapalnya, tetapi juga untuk kru, bahan bakar, suku cadang, perawatan, fasilitas pangkalan, serta sistem pendukung lainnya,” ujar Dwi.

Jangan hanya jadi simbol kebanggaan Dave berpandangan, kehadiran Garibaldi tidak boleh hanya menghasilkan kebanggaan karena Indonesia memiliki kapal induk.

“Namun, yang paling utama, kehadiran Garibaldi tidak boleh berhenti sebagai simbol kebanggaan,” kata Dave.

Nilainya, menurut dia, harus dapat dirasakan melalui kemampuan Indonesia merespons bencana maupun dalam memperkuat posisi Indonesia di forum pertahanan kawasan.

“Nilainya harus terasa langsung, baik lewat kecepatan menolong korban bencana maupun lewat penguatan posisi Indonesia di forum pertahanan kawasan,” ujarnya.

Sementara itu, Dwi mengingatkan bahwa penggunaan Garibaldi harus disertai perencanaan yang jelas. Menurutnya, tantangan terbesar setelah kapal tiba bukan lagi soal bagaimana Indonesia memiliki kapal induk, melainkan bagaimana memastikan kapal itu tetap siap digunakan.

Pemerintah perlu menetapkan komitmen anggaran dan pemeliharaan yang jelas apabila Garibaldi memang diputuskan menjadi bagian dari kekuatan TNI AL.

“Kapal harus memiliki jadwal operasi, latihan, misi kemanusiaan, serta target operational readiness yang terukur,” katanya.

Hal ini penting agar kapal tidak hanya digunakan dalam kegiatan seremonial.

“Jangan sampai hanya menjadi kapal untuk defile atau dipamerkan saat HUT TNI, tetapi kemudian lebih banyak berada di dermaga karena mahalnya biaya operasional dan pemeliharaan,” ujar Dwi.

Share your love

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *