Bangkit dari Tidur Panjang, Bupati Natuna Cen Sui Lan Dorong Hilirisasi Kebun Kelapa Seluas 350 Hektare - lkipartaigolkar

Bangkit dari Tidur Panjang, Bupati Natuna Cen Sui Lan Dorong Hilirisasi Kebun Kelapa Seluas 350 Hektare

Share your love

LKI Golkar – Gemerlap Laut Natuna Utara kini diiringi oleh semangat baru dari daratan. Pulau Tujuh, atau yang kini dikenal sebagai Kabupaten Natuna, sebuah wilayah perbatasan yang dahulu masyhur sebagai lumbung kelapa, tengah berbenah mengembalikan masa keemasannya. Di bawah komando pemimpin perempuan pertamanya, Bupati Cen Sui Lan, geliat ekonomi kerakyatan berbasis kelapa dalam kembali disemai.

Setelah sempat meredup selama beberapa dekade, harapan petani lokal kembali disiram melalui program strategis pemerintah. Pemerintah Kabupaten Natuna secara resmi menggelar Sosialisasi Persiapan Bantuan Benih pada Kegiatan Hilirisasi Kelapa Dalam APBN Tahun Anggaran 2026 di Gedung Sri Serindit, Batu Hitam, Sabtu yang lalu.

Kegiatan ini menjadi titik krusial kebangkitan ekonomi rakyat Natuna, dengan target pengembangan kawasan perkebunan seluas 350 hektare yang melibatkan kelompok tani setempat.

Dalam sambutannya, Bupati Natuna, Cen Sui Lan, menekankan bahwa potensi kelapa di Natuna bukanlah sekadar romantisme sejarah, melainkan aset strategis masa depan. Sebagai pemimpin wanita pertama dari pulau perbatasan, dirinya berkomitmen menghidupkan kembali sektor yang pernah menjadi nadi kehidupan masyarakat.

“Dukungan terhadap sektor perkebunan harus diikuti dengan kesiapan petani. Kami berterima kasih atas pendampingan dari BBPPTP Medan. Bantuan ini adalah peluang besar bagi masyarakat Natuna untuk bangkit, namun harus dikelola dengan disiplin, tertib, dan tepat sasaran,” ujar Cen Sui Lan dalam arahannya.

Pernyataan tersebut diperkuat dengan kehadiran langsung Ketua Tim Kerja Layanan Laboratorium Perbenihan Balai Besar Perbenihan dan Pelindungan Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Medan, Eva Elfriani Tarigan, S.P., M.P., yang hadir membawa kabar gembira sekaligus panduan teknis bagi para petani.

Program ini merupakan implementasi dari Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian. Hadir pula Wakil Bupati Jarmin, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Natuna Wan Syazali, serta perwakilan Kejaksaan Negeri Ranai guna memastikan transparansi dan akuntabilitas program.

Berdasarkan pemaparan BBPPTP Medan, bantuan ini bukan hanya memberikan bibit, melainkan intervensi menyeluruh untuk memastikan tanaman tumbuh dan berproduksi optimal. Total bantuan yang disiapkan meliputi, 38.500 batang benih kelapa siap salur bersertifikat.l, 115.500 kilogram pupuk organik untuk mendukung pertanian ramah lingkungan serta Bantuan Hari Orang Kerja (HOK) untuk pengolahan lahan, pembuatan lubang tanam, dan penanaman.

Bantuan tersebut difokuskan untuk perluasan dan peremajaan tanaman kelapa. Bagi Natuna yang memiliki banyak tanaman kelapa tua, program ini adalah solusi regenerasi yang dinantikan.

Kegiatan ini juga menjadi ajang edukasi intensif mengenai administrasi dan teknis. Pihak BBPPTP Medan menekankan pentingnya kelengkapan dokumen seperti Surat Perjanjian Kerja Sama (SPK), SPTJM, RUKK, hingga rekening kelompok tani aktif.

Dari sisi teknis, petani diarahkan untuk memenuhi standar penanaman profesional, seperti pembuatan lubang tanam berukuran 60x60x60 sentimeter serta kewajiban melakukan dokumentasi titik koordinat lahan.

“Kami tidak ingin bantuan ini sia-sia. Harus ada bukti pekerjaan, harus ada perkembangan. Ini demi kebaikan petani itu sendiri agar program hilirisasi ini benar-benar meningkatkan nilai ekonomi kelapa Natuna,” tegas perwakilan BBPPTP Medan.

Langkah Pemerintah Kabupaten Natuna ini bukan hanya soal menanam, melainkan menyiapkan ekosistem hilirisasi. Dengan memperkuat kuantitas dan kualitas pasokan, Natuna tidak lagi sekadar menjual kelapa mentah, namun berpotensi menjadi pusat pengolahan turunan seperti minyak kelapa murni (VCO), gula semut, hingga arang tempurung.

Semangat Bupati Cen Sui Lan bersama jajaran DKPP Natuna menjadi sinyal kuat bahwa ekonomi rakyat di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) mampu bergerak maju dengan memanfaatkan kearifan lokal.

Melalui kolaborasi apik antara Pemerintah Daerah, Pemerintah Pusat, dan petani, Pulau Tujuh bersiap menuai kembali kejayaan kelapanya, menjadikannya pilar ekonomi baru bagi Indonesia di perbatasan utara. 

Share your love

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *