
Momen Iduladha, Juliyatmono Ingatkan Kader Golkar Karanganyar Tak Terjebak Nafsu Kekuasaan
Share your love
LKI Golkar – Anggota Komisi X DPR RI Juliyatmono meminta momentum Hari Raya Iduladha dijadikan pengingat bagi kader partai Golkar agar tidak terjebak ambisi kekuasaan dan kepentingan pribadi, melainkan tetap mengedepankan pengabdian kepada masyarakat.
Hal itu disampaikan Juliyatmono usai menghadiri silaturahmi keluarga besar Partai Golkar Kabupaten Karanganyar yang digelar di Sekretariat DPD Partai Golkar Karanganyar.
Menurut mantan Bupati Karanganyar tersebut, makna kurban sejatinya bukan hanya penyembelihan hewan, tetapi juga upaya menundukkan ego, kesombongan, dan hawa nafsu dalam kehidupan, termasuk dalam dunia politik.
“Yang sesungguhnya disembelih itu kesombongan, kekuasaan, kekayaan, dan hawa nafsu. Semua harus dikembalikan untuk kemaslahatan masyarakat,” ujarnya kepada wartawan, Jumat (29/5/2026).
Ia menilai, nilai-nilai pengorbanan dalam Iduladha harus menjadi pegangan bagi seluruh kader partai politik dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurutnya, politik seharusnya dijalankan sebagai jalan pengabdian kepada masyarakat, bukan hanya sekadar perebutan jabatan maupun kepentingan kekuasaan semata.
Juliyatmono mengatakan, masyarakat saat ini membutuhkan suasana politik yang menenangkan dan memberi solusi, bukan justru dipenuhi kegaduhan yang memicu perpecahan.
Karena itu, ia meminta kader Partai Golkar tetap menjaga semangat kekaryaan dan terus hadir memberikan kontribusi nyata di tengah masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Juliyatmono juga mengibaratkan Partai Golkar seperti pohon beringin yang selama ini menjadi simbol partai berlambang kuning itu.
Menurutnya, pohon beringin tidak banyak menimbulkan kegaduhan, tetapi mampu memberi keteduhan, oksigen, dan manfaat bagi lingkungan di sekitarnya.
“Pohon beringin itu tidak berisik, tetapi memberi oksigen, memberi keteduhan, dan menjaga kehidupan. Kader Golkar harus membuat masyarakat merasa nyaman dan sejuk,” katanya.
Ia menegaskan kehidupan berbangsa tidak boleh dipenuhi pertentangan politik yang justru merusak persatuan masyarakat.
“Berbangsa itu harus menenangkan, bukan gaduh,” tegasnya.
Juliyatmono juga menyinggung karakter Partai Golkar yang disebut memiliki DNA kekaryaan dan selalu berorientasi pada kontribusi terhadap pemerintah maupun masyarakat.
Karena itu, siapa pun pemimpin partainya, kader Golkar diminta tetap menjaga semangat pengabdian dan terus bekerja untuk kepentingan rakyat.
“Golkar itu partai karya. Siapa pun pemimpinnya, kader Golkar harus tetap memberi kontribusi,” tandasnya.



