Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Mulai Tahun Ini Tak Lagi Impor SolarKetahanan Energi RI Terbaik Kedua Dunia – lkipartaigolkar

Mulai Tahun Ini Tak Lagi Impor SolarKetahanan Energi RI Terbaik Kedua Dunia

Share your love

LKI Golkar – Ketahanan energi Indonesia semakin kokoh di tengah tekanan geopolitik global yang memicu ketidakpastian dunia. Lembaga keuangan internasional, JP Morgan, menempatkan Indonesia di peringkat kedua dunia dalam hal ketahanan energi.

Hal ini didorong oleh penguatan produksi migas, cadangan batubara, serta percepatan Energi Baru Terbarukan (EBT).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, penilaian tersebut merujuk pada laporan Eye on the Market yang diterbitkan JPMorgan Asset Management terhadap 52 negara konsumen energi terbesar dunia.

Dalam daftar tersebut, Indonesia berada di posisi kedua, di bawah Afrika Selatan dan di atas China.

“Kita harus bersyukur di bawah kepemimpinan Presiden Bapak Prabowo Subianto yang notabene adalah alumni TNI, Indonesia dinilai mempunyai ketahanan energi yang baik,” ujar Bahlil saat memberikan paparan pada Apel Komandan Satuan TNI Tahun 2026 di Bogor, Jawa Barat, Rabu (29/4/2026).

Menurut Bahlil, posisi ini tak lepas dari besarnya produksi domestik yang mampu memenuhi kebutuhan nasional.

“Ditambah potensi energi baru dan terbarukan yang tersebar di berbagai wilayah,” imbuhnya dalam keterangan resmi, Kamis (30/4/2026).

Pemerintah mencatat capaian positif pada subsektor migas. Lifting minyak nasional tahun 2025 berhasil memenuhi target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 605.000 barel per hari (bph).

Tahun ini, target ditingkatkan menjadi 610.000 bph melalui optimalisasi teknologi dan reaktivasi sumur-sumur lama.

Selain itu, ditemukan sumber daya gas baru yang signifikan di sumur Geliga-1, Blok Ganal, lepas pantai Kalimantan Timur.

Sumur yang dioperasikan oleh Eni dan Sinopec ini diharapkan mulai berproduksi pada 2028-2029.

“Potensi sumur Geliga itu 5 triliun kaki kubik (tcf). Dengan mendapatkan 300 juta kondensat, ekuivalen dengan 375 juta barel minyak. Ini akan produksi pada 2028-2029. Wilayah Kerja (WK) Ganal tersebut dioperasikan oleh Eni dan Sinopec,” jelas Bahlil.

Langkah strategis lainnya adalah pengurangan impor Bahan Bakar Minyak (BBM) melalui program Biodiesel 50 persen (B50).

Kebijakan ini ditargetkan berlaku secara nasional mulai 1 Juli 2026 untuk menekan ketergantungan pada pasokan luar negeri.

Bahlil menegaskan, tahun 2026 akan menjadi tonggak sejarah bagi kedaulatan energi Indonesia, khususnya pada komoditas solar.

“Kebutuhan solar pada 2026 itu sekitar 40 juta kiloliter. Dari 40 juta kiloliter ini, kita penuhi dengan B40 dan B50. Alhamdulillah mulai 2026, kita tidak lagi impor solar pertama sejak Republik ini berdiri,” ujarnya.

Sebagai pelengkap, Pemerintah juga mengembangkan alternatif pengganti impor LPG melalui pengembangan Dimethyl Ether (DME) dan perluasan penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) untuk sektor industri dan komersial.

“Penggunaan CNG kini meluas ke sektor industri. Seperti perhotelan, restoran dan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) dengan bahan baku yang berasal dari dalam negeri,” pungkas Bahlil.

Share your love

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *