Menteri Bahlil Sebut Negara Tetangga Minta RI Ekspor Listrik, tapi Harganya Harus Win-Win - lkipartaigolkar

Menteri Bahlil Sebut Negara Tetangga Minta RI Ekspor Listrik, tapi Harganya Harus Win-Win

Share your love

LKI Golkar – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan sejumlah negara tetangga meminta Indonesia mengekspor listrik.

Indonesia terbuka memenuhi permintaan tersebut. Namun, Bahlil menegaskan kerja sama perdagangan listrik harus memberikan keuntungan bagi kedua negara.

“Beberapa negara tetangga kita meminta untuk kita melakukan ekspor listrik. Bagi kami Indonesia tidak apa-apa kita ekspor, kan kita harus saling membantu,” ujar Bahlil dalam acara Electricity Connect 2026 di ICE BSD, Tangerang, Banten, Selasa (22/9/2026).

Harga menjadi salah satu hal yang harus disepakati sebelum kerja sama ekspor listrik dilakukan.

Bahlil menekankan, Indonesia tidak ingin skema perdagangan listrik hanya menguntungkan negara pembeli.

“Harganya juga jangan harga yang mau kamu saja. Enggak boleh. Harganya yang harus win-win. Kerja sama itu saling menguntungkan, bukan kerja sama itu saling menekan,” kata dia.

Bahlil menjelaskan, prinsip saling menghormati harus menjadi dasar dalam negosiasi dengan negara lain. Indonesia terbuka menjalin hubungan dengan semua negara. Namun, kerja sama tersebut tidak boleh dilakukan dengan cara menekan salah satu negara. Prinsip tersebut sejalan dengan politik luar negeri Indonesia yang menganut prinsip bebas aktif.

“Kita pengin untuk berkawan kepada semua orang, tetapi perkawanan itu harus dimaknai sebagai bentuk etika baik dengan saling menghargai. Tapi jangan coba-coba menekan negara kami,” ujarnya.

“Kami menganut mazhab politik bebas aktif. Kepada saudara-saudara saya negara tetangga, tolonglah kita pakai adat ketimuran dalam bernegosiasi. Saya tahu kalian punya cara-cara main itu. Saya tahu kalian,” tambah dia.

Indonesia Belum Teken ASEAN Power Grid

Pernyataan tersebut sejalan dengan sikap Indonesia terkait rencana integrasi jaringan listrik negara-negara ASEAN melalui ASEAN Power Grid.

Bahlil mengungkapkan, Indonesia belum menandatangani kesepakatan ASEAN Power Grid karena masih terdapat persoalan mengenai harga listrik.

ASEAN Power Grid merupakan rencana untuk menghubungkan sistem kelistrikan antarnegara di kawasan Asia Tenggara.

Integrasi tersebut diharapkan dapat mendukung perdagangan listrik lintas negara sekaligus memperkuat ketahanan energi kawasan.

“Kemarin Menteri Energi dari Malaysia juga sudah bicara sama saya untuk bagaimana power grid ASEAN bisa kita lakukan dan itu salah satu komitmen kita di KTT ASEAN di Manila, tinggal Indonesia katanya yang belum tanda tangan dan betul, itu saya belum tanda tangan,” ungkapnya.

Bahlil menegaskan, prinsip saling menguntungkan harus diterapkan secara adil kepada seluruh negara yang terlibat dalam kerja sama tersebut.

Pembagian keuntungan yang terlalu timpang, menurut dia, tidak dapat disebut sebagai kerja sama yang saling menguntungkan.

“Saya belum tanda tangan karena hitungan saya belum win-win. Kalau sudah win-win saya akan teken. Win-win itu, untung bagi kamu, untung juga bagi kita. Dan untungnya harus adil. Bukan kamu untung 70, kita untung 30, itu bukan win-win,” ucap Bahlil.

Share your love

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *