
Menteri Bahlil Ungkap Hasil Hilirisasi Nikel, Nilai Ekspor Naik 10 Kali Lipat
Share your love
LKI Golkar – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa kebijakan hilirisasi nikel meningkatkan nilai ekspor komoditas tersebut dari sekitar US$3,3–3,4 miliar per tahun saat masih berupa bahan mentah menjadi US$33 miliar pada 2023.
Hal tersebut ia ungkapkan saat memberikan keynote speech pada ajang Innovation Technology for Social and Environmental Awards (INTECHSEA) 2026 di Jakarta, dikutip pada Selasa (15/09/2026).
Bahlil menjelaskan bahwa sebelum kebijakan penghentian ekspor nikel mentah diterapkan, nilai ekspor nikel Indonesia pada 2017–2018 masih berada di kisaran US$3,3–3,4 miliar per tahun.
Setelah ekspor nikel dalam bentuk bahan mentah dihentikan, nilai ekspor meningkat menjadi US$33 miliar pada 2023. Dengan demikian, berdasarkan angka yang disampaikan Bahlil, nilai ekspor tersebut meningkat sekitar 10 kali lipat dibandingkan periode 2017–2018.
“Ekspor nikel kita pada 2017-2018, saat masih berupa bahan mentah, hanya 3,3-3,4 miliar dolar AS per tahun. Setelah kita tutup ekspor nikel mentah, pada 2023 ekspor kita sudah mencapai 33 miliar dolar AS,” ujarnya.
Manfaat Hilirisasi Belum Merata
Meski nilai ekspor meningkat, Bahlil mengakui manfaat dari kebijakan hilirisasi belum sepenuhnya dirasakan secara merata oleh daerah penghasil tambang.
Menurutnya, kebijakan hilirisasi ke depan perlu memastikan kegiatan smelter melibatkan pelaku usaha di daerah, termasuk pengusaha lokal, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta koperasi.
Pemerintah juga mendorong dukungan pendanaan dari Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara agar nilai tambah dari kegiatan hilirisasi dapat lebih banyak berputar di dalam negeri.
“Bahan baku pertumbuhan yang ada di daerah, perputaran ekonominya harus dikuasai oleh daerah. Jadikan orang daerah sebagai tuan di negerinya sendiri,” katanya.
Smelter Didorong Libatkan Pengusaha Lokal
Bahlil menegaskan bahwa peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fasilitas pengolahan mineral. Menurutnya, kegiatan ekonomi yang terbentuk di sekitar industri pengolahan juga perlu memberikan ruang bagi pelaku usaha lokal.
Keterlibatan UMKM dan koperasi dinilai menjadi bagian dari upaya agar manfaat ekonomi dari aktivitas pertambangan dan pengolahan mineral dapat dirasakan lebih luas di daerah penghasil.
Bahlil Dukung Institut Mineral Kritikal Unhas
Selain mendorong hilirisasi yang lebih merata, Bahlil menyampaikan dukungan terhadap penguatan riset mineral kritikal melalui dunia akademis.
Ia mendukung inisiatif Universitas Hasanuddin (Unhas) untuk mendirikan Institut Mineral Kritikal. Dukungan tersebut dikaitkan dengan keberadaan cadangan nikel, kobalt, dan potensi logam tanah jarang yang menurut Bahlil banyak berada di kawasan timur Indonesia.
“Institut Mineral Kritikal dari Unhas, saya dukung seribu persen,” tegasnya.
Menurut Bahlil, penguatan riset dalam negeri menjadi bagian dari pengembangan industri mineral, terutama dalam meningkatkan kemampuan Indonesia mengelola sumber daya mineral bernilai strategis.



