
Tak Capai KPI, Bupati Batang Ancam Copot Kepala OPD
Share your love
LKI Golkar – Peringatan tegas meluncur dari Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan.
Di hadapan jajarannya, orang nomor satu di Kabupaten Batang ini tegaskan tidak akan berkompromi dengan kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang rapor kinerjanya merah.
Bagi Faiz, jabatan di birokrasi bukanlah kursi statis yang aman, melainkan tanggung jawab yang harus dibuktikan dengan angka nyata melalui Key Performance Indicator (KPI). Ia tak segan meminta pejabat yang tidak sanggup memenuhi target untuk mundur.
“Semua jabatan itu tergantung performance. Kepala dinas dinilai dari KPI-nya. Kalau tidak achieve KPI, pilihannya jelas, be or not to be. Mau jadi atau tidak. Kalau tidak siap, ya sudah, tidak usah ambil jabatan,” tegas Bupati Faiz.
Faiz mengingatkan bahwa nasib kepala dinas berbeda dengan jabatan politik yang dievaluasi lima tahun sekali. Di birokrasi, capaian program harian adalah penentu utama.
Ia menyentil fenomena OPD yang sekadar mengejar penyerapan anggaran tanpa memberikan manfaat konkret bagi publik.
Ia meminta pejabat memiliki kepekaan lapangan (sense of crisis), bukan hanya bekerja saat ada komplain.
“Masih banyak yang kerja hanya untuk belanja. Ini harus diubah. Salah satu poin yang menjadi perhatian serius adalah kepekaan lapangan. Jangan hanya duduk di balik meja dan baru bergerak saat media sosial ramai atau warga berteriak protes,” tegasnya.
Ia mencontohkan fasilitas publik yang terbengkalai, seperti keramik pecah hingga jalan berlubang di Jalan Ahmad Yani yang kerap lamban ditangani.
“Lampu penerangan mati, jangan nunggu masyarakat ngadu baru dibenerin. Harusnya kita lebih dulu tahu. Saya berharap laporan itu datang dari kita sendiri, bukan dari Masyarakat,” jelasnya.
Kritik tajam Bupati juga menyasar kondisi kebersihan di Jalur Pantura Batang yang dinilai masih memprihatinkan
Faiz menyayangkan tumpukan sampah dan sisa material perbaikan jalan yang seringkali dibiarkan berbulan-bulan.
“Saya masih melihat di jalur Pantura, dua sampai tiga bulan belum dibersihkan. Bekas penanganan banyak sampah menumpuk,” tuturnya.
Sektor perhubungan pun tak luput dari bidikan. Dinas Perhubungan diminta lebih bertaji dalam menertibkan kesemrawutan lalu lintas, terutama di titik-titik krusial yang kerap memakan badan jalan dan mengganggu wajah kota.
“Tidak boleh ada parkir di exit tol Kandeman. Di Jalan Ahmad Yani juga masih banyak parkir sembarangan sampai makan badan jalan,” ungkapnya.
Di balik ketegasannya, Faiz membawa misi besar agar Kabupaten Batang lepas dari ketergantungan pusat dan menjadi daerah yang mandiri secara fiskal.
Kenyamanan dan ketertiban daerah menjadi syarat mutlak agar investor dan wisatawan mau datang, yang ujungnya akan mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Kuncinya satu, daerah ini harus mandiri secara fiskal. Pendapatan Asli Daerah (PAD) harus tinggi. Optimalisasi pajak di sektor hiburan, restoran, hingga PBB. Kalau daerahnya tidak bagus, tidak tertata, bagaimana orang mau datang ke sini,” ujar dia



