
Dave: Diplomasi Energi Prabowo–Bahlil di AS Perkuat Kedaulatan Nasional
Share your love
LKI Golkar – Anggota Komisi I DPR Fraksi Partai Golkar Dave Laksono menilai kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Washington DC, Amerika Serikat, pada Februari 2026 menjadi momentum penting diplomasi energi Indonesia.
Menurutnya, agenda yang didampingi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia itu tidak sekadar seremoni, tetapi bagian dari visi besar swasembada energi dan hilirisasi industri.
“Inti pertemuan adalah memutus rantai impor dan mengokohkan ketahanan energi nasional. Fokus utama yang dibawa Menteri Bahlil adalah stabilitas pasokan energi,” kata Dave, Kamis (19/2/2026).
Dalam rangkaian pertemuan dengan pemerintah dan pelaku industri AS, Indonesia berhasil mengamankan komitmen investasi sekitar US$3,5 miliar untuk revitalisasi sumur minyak tua melalui teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR).
Bahlil menyatakan teknologi EOR akan mengerek kembali produktivitas ladang minyak domestik yang selama ini tidak optimal.
Langkah tersebut diproyeksikan menambah produksi hingga 80.000 barel per hari dan berpotensi menghemat devisa negara.
Dave juga menyoroti pengakuan Amerika Serikat terhadap posisi strategis Indonesia dalam rantai pasok mineral kritis. Ia menyebut Indonesia berhasil melobi akses pasar yang adil bagi produk turunan nikel dan tembaga.
Selain itu, terdapat komitmen investasi sekitar US$4 miliar untuk pembangunan pabrik pemurnian (smelter) berteknologi High-Pressure Acid Leaching (HPAL) guna mendukung industri baterai kendaraan listrik.
Menurut Dave, hal ini membuktikan kebijakan hilirisasi Indonesia mulai diakui secara global. Di bidang transisi energi, Indonesia memaparkan peta jalan pragmatis dengan gas alam sebagai energi transisi menuju Net Zero Emission.
Dukungan pendanaan sebesar US$2,8 miliar dari lembaga keuangan AS akan mempercepat pembangunan pipa gas transnasional dan terminal LNG dengan target harga energi di bawah US$6 per MMBTU.
Mengutip pernyataan Presiden Prabowo, Dave menyampaikan bahwa Indonesia datang untuk menawarkan kemitraan yang saling menguntungkan. Kombinasi sumber daya Indonesia dan teknologi AS dinilai akan menciptakan kekuatan ekonomi baru.
Dave menilai diplomasi energi ini dapat memberikan efek domino bagi industri manufaktur nasional melalui kepastian pasokan energi yang stabil dan kompetitif.
Ia juga menyoroti reformasi birokrasi sektor energi melalui sistem RKAB digital serta peluang pengembangan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS).
“Kunjungan ini menandai pergeseran gaya diplomasi ekonomi Indonesia yang lebih berani, teknis, dan berorientasi hasil. Energi kini menjadi modal dasar menuju Indonesia sebagai kekuatan industri baru di Asia Tenggara,” tutup Dave.



