
Sidang Umum PBB, Komisi XII Bambang Patijaya Harap Dapat Redakan Ketegangan Iran-AS dan Tekan Harga Minyak Dunia
Share your love
LKI Golkar – Wakil Ketua Parksi Partai Golkar sekaligus Anggota Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya berharap Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB yang saat ini sedang berlangsung, dapat membuka jalan menuju perdamaian.
Bambang Patijaya mengatakan konflik geopolitik memiliki kaitan langsung dengan pergerakan harga minyak.
Semakin panjang ketegangan berlangsung, semakin besar pula tekanan terhadap pasar energi dunia.
Menurut dia, masyarakat internasional mulai lelah dengan pertikaian antara Amerika Serikat dan Iran.
“Seluruh shareholder, stakeholder yang ada di dunia ini itu lelah dan capek terkait dengan drama-drama yang ditimbulkan oleh Amerika dengan Iran ini,” kata Bambang Patijaya, Minggu (27 /9/2026).
Karena itu, Bambang Patijaya berharap persidangan PBB yang sedang berlangsung tidak sekadar menjadi forum diplomasi.
Ia menginginkan pertemuan tersebut menghasilkan kesadaran bersama untuk menghentikan pertikaian dan membangun keseimbangan baru.
“Kita berharap bahwa dari semua pertikaian yang ada itu akan mencapai satu keseimbangan baru, mencapai satu titik di mana kesadaran terhadap perdamaian dunia itu menjadi satu kesepakatan,” ujarnya.
Eskalasi konflik sebelumnya sempat mendorong harga minyak dunia menyentuh US$100 per barel.
Sementara rata-rata Indonesian Crude Price atau ICP sepanjang tahun berjalan, menurut Bambang, berada di kisaran US$85-90 per barel.
Legislator asal Dapil Bangka Belitung ini berharap perdamaian dapat meredakan tekanan terhadap harga minyak.
Ia mengacu pada harga minyak yang sempat berada di sekitar US$75 per barel dua bulan sebelumnya.
“Dengan adanya tercapainya suatu perdamaian dunia, kita berharap bahwa harga minyak dunia juga secara berangsur akan kembali membaik seperti terjadi pada dua bulan yang lalu, sempat menyentuh ke angka 75,” katanya.
Kenaikan ICP turut menjadi perhatian bagi Indonesia karena dapat menambah tekanan terhadap perekonomian dan APBN. Namun Bambang mengatakan kondisi fiskal Indonesia masih cukup kuat untuk menghadapi kenaikan tersebut.
“Bagi Indonesia sendiri ICP yang bergerak naik ke atas tentu memberikan beban. Tetapi sekali lagi saya sampaikan itu tidak mengurangi daripada kemampuan fundamental daripada APBN kita untuk mengatasi itu. Jadi APBN kita masih tangguh, APBN kita masih kuat,” ujar dia.
Menurut Bambang Patijaya, konflik yang berkepanjangan juga memiliki konsekuensi lain, mempercepat transisi energi. Ketika harga minyak dan ketidakpastian pasokan meningkat, elektrifikasi berpotensi berkembang lebih cepat di berbagai sektor.
“Ketika situasi ini berlarut-larut sebetulnya transisi energi itu akan lebih cepat kepada yang namanya elektrifikasi,” ujar dia.
Elektrifikasi, kata dia, akan merambah sektor energi, transportasi, hingga industri. Perkembangan kendaraan listrik yang semakin beragam, terjangkau, dan efisien pada akhirnya dapat mengubah pola permintaan minyak dunia.
Bambang Patijaya berharap konflik tidak terus berlarut. Perdamaian, menurut dia, bukan hanya penting bagi stabilitas politik global, tetapi juga bagi pasar energi yang selama ini sensitif terhadap ketegangan geopolitik.
“Mudah-mudahan ada satu keseimbangan yang dapat dicapai oleh dunia, kesadaran komunal terhadap yang namanya perdamaian dunia,” kata dia.



