
Menteri Mukhtarudin Terima Audiensi IBI-K57Pemerintah Siapkan Pekerja Migran Berdaya Saing Global
Share your love
LKI Golkar – Pemerintah memperkuat sinergi dengan perguruan tinggi untuk menyiapkan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang profesional dan berdaya saing global.
Upaya ini menjadi bagian dari strategi nasional memanfaatkan bonus demografi, sekaligus menjawab tingginya permintaan tenaga kerja terampil dari pasar internasional.
Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin menerima audiensi delegasi Institut Bisnis dan Informatika Kosgoro 1957 (IBI-K57) di kantor Kementerian P2MI, Jakarta Selatan, Selasa (6/1/2026).
Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak membahas potensi kerja sama strategis dalam penguatan kualitas dan penempatan pekerja migran Indonesia.
Mukhtarudin didampingi Sekretaris Jenderal Komjen Dwiyono serta Direktur Jenderal Penempatan Ahnas. Sementara delegasi IBI-K57 dipimpin Rektor Haswan Yunaz, didampingi Wakil Rektor I Dodi Wahab, Wakil Rektor II Tagor Rambey dan Wakil Rektor III Enny Widayati.
Pertemuan ini menjadi langkah konkret kolaborasi antara Pemerintah dan perguruan tinggi dalam memanfaatkan bonus demografi Indonesia, sekaligus menjawab tingginya kebutuhan tenaga kerja terampil di pasar global.
Dalam pembahasan tersebut, Kementerian P2MI dan IBI-K57 sepakat menjajaki sejumlah kerja sama. Termasuk pelibatan mahasiswa dan alumni IBI-K57 dalam Program Quick Win Penempatan Pekerja Migran.
Program tersebut dirancang melalui mekanisme pelatihan vokasi, uji kompetensi, dan sertifikasi yang difasilitasi Kementerian atau Badan P2MI.
Selain itu, kolaborasi juga mencakup partisipasi dosen dan mahasiswa dalam edukasi migrasi aman, diseminasi peluang kerja luar negeri, serta penguatan kompetensi prapenempatan.
Kompetensi yang akan diperkuat, antara lain penguasaan bahasa asing seperti Inggris, Mandarin, Arab, Korea dan Jepang, serta komunikasi lintas budaya, etos kerja global, dan literasi keuangan.
Rektor IBI-K57 Haswan Yunaz mengusulkan beberapa program spesifik, antara lain Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) secara daring bagi pekerja migran yang sedang bekerja di luar negeri guna meningkatkan kualifikasi akademik dan karier.
Selain itu, dia juga mengusulkan program literasi keuangan dan kuliah kerja nyata (KKN) tematik untuk mendorong keluarga pekerja migran beralih dari pola konsumtif ke produktif melalui pendampingan usaha mikro di desa.
Sinergi tersebut dinilai sejalan dengan karakter IBI-K57 yang menekankan jiwa kewirausahaan dan penguasaan bahasa Inggris, dengan standar minimal skor TOEFL 450.
Pentingnya sinergi antarlembaga dalam mengoptimalkan penempatan dan penguatan pekerja migran Indonesia. Kolaborasi dengan IBI Kosgoro 1957 sebagai bentuk simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan bagi bangsa dan negara.
Mukhtarudin mengatakan, kebijakan penempatan pekerja migran kini difokuskan pada tenaga kerja profesional dan berketerampilan tinggi, termasuk pekerja domestik.
“Semuanya sudah kita tempatkan secara profesional. Kementerian P2MI telah melakukan profiling dan pemetaan berdasarkan jenis pekerjaan serta kompetensinya,” ujar Mukhtarudin.
Menurutnya, PMI saat ini banyak ditempatkan di berbagai sektor strategis, seperti kesehatan, manufaktur, perikanan, hospitality dan pengelasan (welder).
“Permintaan dari negara tujuan sangat tinggi untuk skilled workers. Tidak ada lagi yang non-skilled, bahkan pekerja domestik pun harus memiliki keterampilan,” tegasnya.
Diakuinya, tantangan utama masih terletak pada keterbatasan pasokan tenaga kerja terampil dari dalam negeri. Salah satu kendala paling mendasar adalah rendahnya kemampuan bahasa asing.
“Negara tujuan seperti Korea Selatan dan Jepang mensyaratkan penguasaan bahasa setempat. Taiwan dan Hong Kong membutuhkan bahasa Mandarin, Eropa bahasa Inggris, serta Timur Tengah bahasa Arab,” katanya.



