
Benda Budaya Di Luar Negeri, Begini Sikap Pemprov NTB
Share your love
LKI Golkar – Alih-alih meminta pemulangan (repatriasi) atau klaim kepemilikan akan benda-benda budaya yang ada di luar negeri, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) justru punya pendekatan dan cara pandang unik akan hal itu.
Pihaknya justru lebih mengedepankan pendataan, pengaksesan pengetahuan, dan dokumentasi atas warisan budaya daerah yang tersimpan di Australia, sebagai salah satu upaya diplomasi.
“Kami harus mulai mengetahui, mendata, dan membangun komunikasi dengan institusi yang menyimpannya,” kata Wakil Gubernur NTB, Indah Dhamayanti Putri dalam keterangannya yang dikutip dari Antara.
Dia menegaskan bahwa memperjuangkan kebudayaan tidak harus selalu bicara soal pengembalian benda-benda budaya ke tanah air. Hal yang tak kalah krusial adalah bagaimana masyarakat NTB mendapatkan jaminan akses terhadap nilai sejarah, pengetahuan, serta dokumentasi yang melekat pada benda-benda tersebut.
“Ketika kami menemukan benda dari Bima berada di museum Australia, pertanyaannya kemudian adalah berapa banyak lagi benda kebudayaan NTB yang berada di luar negeri,” ujarnya.
Dalam kunjungannya ke Art Gallery of South Australia (AGSA), delegasi Pemprov NTB menemukan jajaran koleksi berharga asal Lombok, Bali, dan Bima. Di antaranya adalah kekombong (kain ritual Lombok Utara), kampuh atau leang (Lombok Tengah), kain songket dengan teknik supplementary weft.
Selain itu ada pula keris kerajaan yang dalam katalog AGSA tercatat berasal dari Bima. Keris tersebut diperkirakan berasal dari abad ke-17 hingga awal abad ke-18, dan menjadi salah satu jejak keberadaan warisan budaya Nusa Tenggara Barat yang telah berada dalam koleksi institusi di luar negeri.
Keris kerajaan tersebut tidak hanya dipandang sebagai senjata, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan kebudayaan. Material logam berharga serta unsur dekoratif pada keris menunjukkan artefak itu memiliki kaitan dengan status, kekuasaan, estetika, dan teknologi logam pada zamannya.
Tak hanya benda fisik dan wastra, delegasi juga menemukan karya sastra berharga berupa manuskrip Hikayat Nabi Yusuf yang tertulis di atas daun lontar.
Keberadaan manuskrip daun lontar itu menunjukkan bahwa warisan budaya NTB tidak hanya berupa benda atau wastra, tetapi juga mencakup manuskrip, sastra, bahasa, senjata tradisional, ritual khusus, dan pengetahuan tentang alam.
Dirinya memandang, keberadaan benda-benda budaya di luar negeri justru dinilai sebagai peluang untuk memperkuat penelitian dan dokumentasi akan sejarah perjalanan budaya daerah ke berbagai belahan dunia.
“Perjalanan itu harus menjadi bagian dari upaya kita menjadikan kebudayaan sebagai salah satu kekuatan NTB untuk mendunia,” tegas Indah.
Dengan terdata dan tercatatnya asal-usul artefak tersebut secara akurat, keberadaan warisan budaya NTB di mana pun berada diharapkan dapat terus memberikan manfaat ilmu pengetahuan dan kebanggaan historis bagi generasi mendatang.



