
SYIAR 2026 Dibuka, Wali Kota Kediri Ungkap 26.705 Produk Sudah Bersertifikat Halal
Share your love
LKI Golkar – Pemerintah Kota Kediri terus mendorong penguatan ekosistem ekonomi syariah dan produk halal. Hingga 2 September 2026, sebanyak 26.705 produk Kota Kediri tercatat telah mengantongi sertifikat halal berdasarkan data Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).
Data tersebut disampaikan Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati saat menghadiri pembukaan Semarak Ekonomi Syariah Wilayah Mataraman (SYIAR) 2026, Jumat (4/9/2026).
SYIAR 2026 diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kediri bersama Pemerintah Kota Kediri pada 4-6 September 2026. Kegiatan dipusatkan di Balai Kota Kediri dan Jalan Basuki Rahmat.
Pembukaan ditandai dengan pemukulan kendang reog oleh Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati bersama Ketua MUI Pusat, Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur, Wakil Direktur Eksekutif I KDEKS Provinsi Jawa Timur, dan Kepala KPwBI Kediri.
Tahun ini, SYIAR mengangkat tema “Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Syariah di Wilayah Mataraman melalui Sinergi dan Transformasi Digital.”
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian menuju Festival Ekonomi Syariah (FESyar) dan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF).
26.705 Produk Kediri Telah Bersertifikat Halal
Vinanda mengatakan pengembangan ekonomi syariah tidak sebatas berkaitan dengan sektor keuangan. Menurutnya, ekonomi syariah juga menyentuh pertumbuhan usaha masyarakat, peningkatan kualitas produk lokal, pemberdayaan pesantren, hingga perluasan akses pembiayaan yang aman dan inklusif.
Pemkot Kediri, kata dia, terus berkolaborasi dengan KPwBI Kediri serta berbagai instansi untuk membantu pelaku usaha mendapatkan sertifikasi halal.
“Alhamdulillah, antusiasme para pelaku usaha di Kota Kediri sangat baik. Berdasarkan data Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) per tanggal 2 September 2026, ada 26.705 produk Kota Kediri yang telah mengantongi sertifikat halal. Ini menunjukkan bahwa ekosistem halal di Kota Kediri terus bergerak. Di mana, ada ribuan pelaku usaha yang terus berbenah meningkatkan kualitas produk dan berusaha memberikan jaminan pada konsumen,” ungkapnya.
Menurut Vinanda, sertifikasi halal bukan hanya persoalan label. Lebih dari itu, halal harus menjadi bagian dari kualitas produk sekaligus membangun kepercayaan konsumen.
Karena itu, penguatan ekosistem halal perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari proses produksi, pembiayaan, sertifikasi, distribusi hingga pemasaran.
Dalam SYIAR 2026, Pemkot Kediri bersama sejumlah pihak juga melakukan penandatanganan komitmen ekosistem halal di Kota Kediri. Komitmen tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem halal yang lebih kuat, terintegrasi, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Dorong Zona Kuliner Halal dan Wisata Halal
Vinanda menilai pengembangan ekonomi syariah juga membuka peluang bagi Kota Kediri untuk memperkuat sektor pariwisata.
Salah satu langkah yang didorong adalah penambahan Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat (KHAS). Pemkot berharap zona tersebut dapat berkembang dan menjadi bagian dari ekosistem wisata halal di Kota Kediri.
“Semoga, ke depan zona kuliner halal, aman dan sehat (KHAS) di Kota Kediri bisa terus bertambah sehingga bisa tercipta ekosistem wisata halal menyusul daerah lain yang sudah eksis, seperti Lombok, Aceh, Riau, Jakarta, Sumatera Barat, Jawa Barat, dan DIY. Insyaa Allah dengan kolaborasi dan sinergi yang kuat ini, Kota Kediri mampu menjadi salah satu destinasi halal, aman, nyaman, dan favorit guna menumbuhkan perekonomian di Kota Kediri,” jelasnya.
Bagi Pemkot Kediri, pengembangan kawasan halal diharapkan tidak hanya memberikan kepastian dan kenyamanan kepada konsumen, tetapi juga membuka ruang pertumbuhan bagi pelaku UMKM dan sektor ekonomi lokal.
BI: Rantai Nilai Halal Jadi Salah Satu Fokus
Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur Rifki Ismal menyambut positif pelaksanaan SYIAR 2026. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bagian dari perjalanan pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia, termasuk melalui rangkaian Road to FESyar.
Ia menyebut Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Salah satu fokus pentingnya adalah memperkuat rantai nilai halal.
Pengembangan tersebut membutuhkan sinergi antara Bank Indonesia, pemerintah, regulator, OJK, LPS, Kementerian Keuangan, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Terdapat tiga pilar utama dalam pengembangan ekonomi syariah, yakni penguatan rantai nilai halal atau ekosistem halal, pengembangan keuangan syariah, serta peningkatan literasi ekonomi dan keuangan syariah masyarakat.
“Indonesia memiliki potensi pengembangan ekonomi keuangan syariah yang luar biasa,” ujar Rifki.
SYIAR 2026 Hadirkan UMKM hingga Gerakan Pangan Murah
Selama tiga hari pelaksanaan, SYIAR 2026 menghadirkan beragam kegiatan yang dapat diikuti masyarakat.
Agenda tersebut antara lain Mataraman Sharia Economic Competition, pengajian, talkshow dan demo masak, Talk Show Berkah Berdaya, Kompetisi Dakwah Ekonomi Syariah, Family Fun Walk, Chemara, sosialisasi CBP QRIS dan PEKA, Gerakan Pangan Murah, tenant kuliner dan kopi, serta pameran produk UMKM Mataraman.
Selain itu, tersedia pula layanan Halal Center dan berbagai kegiatan pendukung lainnya.
Gelaran ini diharapkan tidak berhenti sebagai ajang pameran dan edukasi. Penguatan transaksi, akses pembiayaan, perluasan pasar, kolaborasi usaha, serta pemanfaatan transformasi digital menjadi bagian penting untuk memastikan ekonomi dan keuangan syariah memberikan dampak yang lebih luas.
Dengan semakin banyaknya produk bersertifikat halal dan dukungan lintas sektor, Kota Kediri memiliki modal awal untuk memperkuat ekosistem halal dari hulu hingga hilir sekaligus membuka peluang baru bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat.



