
John Kenedy Azis Jemput Bola ke Menkes, Perjuangkan Pustu demi Layanan Kesehatan hingga Pelosok Padang Pariaman
Share your love
LKI Golkar – Di tengah forum nasional yang mempertemukan para pemangku kepentingan sektor kesehatan, Bupati Padang Pariaman John Kenedy Azis memanfaatkan momentum untuk membawa langsung aspirasi masyarakatnya kepada pemerintah pusat. Di hadapan Menteri Kesehatan RI Budi Gunawan, ia menyerahkan proposal pembangunan Puskesmas Pembantu (Pustu) sebagai langkah memperkuat layanan kesehatan dasar hingga ke nagari-nagari di Kabupaten Padang Pariaman.
Langkah tersebut dilakukan di sela penyelenggaraan Proctorship Kasus Kardiovaskuler Pediatrik di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr. M. Djamil Padang. Forum itu dihadiri Menteri Kesehatan, Gubernur Sumatera Barat, jajaran Kementerian Kesehatan, para bupati dan wali kota se-Sumatera Barat, serta direktur rumah sakit dari berbagai daerah di provinsi tersebut.
Bagi John Kenedy Azis, penyerahan proposal bukan sekadar agenda seremonial. Di balik dokumen yang diserahkan, tersimpan kebutuhan riil masyarakat terhadap layanan kesehatan yang semakin dekat, cepat, dan berkualitas, terutama bagi warga yang tinggal jauh dari pusat pelayanan kesehatan.
“Kami terus berupaya menghadirkan pelayanan kesehatan yang semakin merata hingga ke seluruh wilayah Kabupaten Padang Pariaman. Dukungan pemerintah pusat sangat kami harapkan agar fasilitas kesehatan dasar semakin memadai dan mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ujar John.
Menurut dia, pembangunan Pustu menjadi bagian penting dalam memperkuat fondasi pelayanan kesehatan primer. Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan mampu meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan medis, sekaligus mempercepat penanganan kasus-kasus kesehatan sebelum dirujuk ke rumah sakit.
Urgensi penguatan layanan kesehatan juga terlihat dari kondisi kesehatan ibu dan anak di Padang Pariaman. Data Dinas Kesehatan setempat menunjukkan, selama Januari hingga Juni 2026 terdapat 2.842 kelahiran bayi, dengan lima di antaranya terdiagnosis mengalami penyakit jantung bawaan.
Secara persentase jumlah itu memang relatif kecil. Namun, penyakit jantung bawaan merupakan salah satu penyebab kematian bayi yang membutuhkan deteksi sejak dini, penanganan cepat, serta sistem rujukan yang terintegrasi agar peluang kesembuhan dapat meningkat.
Kondisi tersebut menjadi alasan mengapa pemerintah daerah tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik fasilitas kesehatan, tetapi juga memperkuat sistem pelayanan mulai dari tingkat paling dasar.
Pustu dipandang memiliki peran strategis sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan di nagari. Selain memberikan pelayanan kesehatan dasar, fasilitas tersebut menjadi titik awal skrining kesehatan ibu hamil, bayi, balita, hingga deteksi dini berbagai penyakit yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Forum Proctorship Kasus Kardiovaskuler Pediatrik sendiri merupakan bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan melalui pendampingan langsung oleh dokter spesialis dalam penanganan penyakit jantung bawaan pada anak.
Selain menjadi ruang transfer pengetahuan dan pengalaman klinis, kegiatan itu juga memperkuat jejaring rujukan antar-fasilitas kesehatan sehingga pasien, khususnya bayi dan anak dengan penyakit jantung bawaan, dapat memperoleh pelayanan yang lebih cepat dan tepat.
Dalam kesempatan tersebut, John Kenedy Azis didampingi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman beserta jajaran. Kehadiran pemerintah daerah dalam forum nasional itu sekaligus menjadi wujud komitmen memperkuat kolaborasi dengan pemerintah pusat guna meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat.
Pemkab Padang Pariaman meyakini bahwa pembangunan layanan kesehatan tidak dapat dilakukan secara parsial. Dukungan pemerintah pusat, rumah sakit rujukan, tenaga kesehatan, hingga pemerintah daerah menjadi faktor penting untuk mewujudkan sistem pelayanan yang lebih merata.
Melalui pengajuan pembangunan Pustu tersebut, pemerintah daerah berharap masyarakat di pelosok nagari tidak lagi menghadapi kesenjangan akses terhadap pelayanan kesehatan. Upaya itu juga diharapkan mampu memperkuat layanan kesehatan primer, meningkatkan kualitas hidup ibu dan anak, serta mendukung target pembangunan kesehatan nasional yang berorientasi pada pelayanan yang inklusif dan berkeadilan.



